Sambil duduk, tangan ibu berusia 40 tahun ini cekatan menggerakan alat tenun tradisional yang sering disebut gedhog. Untaian benang diputar ke atas dan ke bawah hingga membentuk sebuah motif tertentu. Rapi sekali.
Sebentar berhenti untuk mengunyah sirih yang dibawa dari rumah. Perlahan, gigi dan bibirnya sudah berubah jadi oranye kemerahan. Makin dikulum makin merona.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia tak sendirian. Ada 200 penenun yang ikut meramaikan festival serat dan warna alam, SWARNAFest 2013, juga mengunyah sirih. Nurjanah Ali, 37 tahun, penenun lainnya bilang, sirih berguna mengusir kantuk.
Ya, maklum saja. Menenun selembar kain selendang bisa makan waktu hingga seharian. Itu jika semangat. Kalau sudah lelah dan mengantuk, tentu prosesnya bakal lebih lama.
"Sirih ini bikin mata melek terus. Segar terus tak ada lelah. Mau menenun ya harus makan sirih dulu," ujar Mama Nurjanah.
Namun, Mama Ariance tak sama. Ibu berusia 41 tahun itu lebih senang tidak mengunyah apapun saat menenun. Untuk mengusir kantuk dan lelah, ia memilih berisitirahat sejenak.

"Tidak. Saya tak biasa kunyah sirih. Kalau capek, ya istirahat dulu. Begitu saja," katanya.
DetikHOT sempat mengikuti kebiasaan mama-mama penenun tersebut. Mengunyah sirih yang rasanya ternyata sedikit getir. Ada paduan antara pedas-pedas daun mint, manis, dan pahit.
Bagi yang belum biasa mungkin akan terasa sedikit mual. Namun, hanya sekejap. Selebihnya, anggaplah seperti makan permen karet yang mampu memutihkan gigi secara alami.
(fip/utw)











































