Ya, pasalnya di gedung ini terdapat banyak ribuan koleksi film berserta perangkat-perangkatnya. Termasuk soal poster film.
Pria yang akrab disapa Adi mengatakan pihaknya memiliki poster sejak tahun 1920an hingga masa sekarang ini. Beberapa poster film yang sudah tua dibingkai rapi dan dipajang di ruang kesekretariatan lantai empat dan lima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Sinematek sendiri yang berfungsi sebagai pengarsipan, kata Adi, poster menjadi elemen terpenting. Ketika seseorang melihat poster, itu adalah kesan pertamanya apakah ingin menonton atau tidak.
"Ibaratnya itu adalah gerbang pertamanya orang untuk nonton film," ujarnya. Sekarang ini, teknologi sudah berkembang dan informasi sudah berasal dari segala macam arah, publik tak lagi harus melihat poster untuk tertarik nonton.
Sinematek sendiri dibangun pada 1975 silam oleh Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani. Gedung arsip ini adalah arsip film pertama di Asia Tenggara. Serta menjadi satu-satunya di Indonesia.
Khusus untuk film, kata Adi, ada sekitar lebih dari 2700 film. Sedangkan poster film lebih dari angka tersebut. Semuanya tersimpan rapi di ruang basement dan perpustaakn lantai lima.
Sinematek Indonesia juga pernah membuat buku bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional. Buku tersebut dibagi ke dalam empat era yakni sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, era 1970-1980, dan era teknologi digital.
"Keempat seri ini adalah klasifikasi dari kami untuk memudahkan pembaca mengetahui poster film dari masa ke masa," ujar mantan Ketua Pelaksana 'Festival Film Indonesia' tahun 2004-2006.

(tia/utw)











































