Ini Gerakan Anak Muda Untuk Perubahan Sosial

Pekan Kedua - Siasat Jakarta Biennale (6)

Ini Gerakan Anak Muda Untuk Perubahan Sosial

- detikHot
Senin, 18 Nov 2013 16:41 WIB
Ini Gerakan Anak Muda Untuk Perubahan Sosial
dok. Pamflet
Jakarta - Organisasi Pamflet berdiri akhir tahun 2012. Meski masih terbilang baru, organisasi ini digagas oleh para 'veteran' di kalangan aktivis muda Indonesia. Pendirinya adalah anak-anak muda yang datang dari berbagai disiplin ilmu.

Dalam perhelatan Jakarta Biennale 2013, Pamflet terpilih menjadi penyelenggara diskusi publik yang diadakan selama tiga hari berturut-turut. Ide menginisiasi Pamflet, dijelaskan oleh salah satu pendirinya Afra Suci Ramadhan adalah untuk mengawal pergerakan anak muda di Indonesia dan membangun jaringan bagi anak muda.

"Sekarang organisasi anak muda sedang kencang-kencangnya. Banyak anak muda yang mulai berperan dalam gerakan perubahan sosial. Jadi kami melihat, sepertinya perlu ada yang mengawal dan membangun jaringan anak muda itu sendiri," ujarnya kepada detikHOT di kantor Pamflet, Kemang, Jakarta Selatan, Jum'at (15/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pamflet fokus pada kajian dan jaringan gerakan anak muda di Indonesia. Ke depannya mereka akan merilis buku yang membahas soal sejarah anak muda kontemporer.Target utama dari pergerakan organisasi ini memang para aktivis muda.

Untuk anak muda yang masih terbilang awam. Afra menjelaskan bahwa Pamflet coba memberikan kesadaran mengenai pentingnya gerakan anak muda dan jika mereka mau mereka bisa menjadi aktivis.

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia itu mengungkapkan bahwa Pamflet memiliki tiga divisi yang bersinergi satu dengan yang lainnya. Yang pertama adalah kajian dan penelitian anak muda. Kedua, adalah youth movement. Terakhir, yuouth activism.

"Divisi ini fokus untuk pengembangan kapasitas aktivis muda dan jaringannya, makanya kami ada acara pertemuan rutin jaringan dan pelatihan," kata Afra.

Pamflet juga telah membuat sebuah kajian mengenai tipologi karakter anak muda kontemporer pasca reformasi. "Kita melihat bahwa dulu ketika masih zaman orde baru yang otoriter, partisipasi publik ditekan, semua negara yang kasih. Jadinya inisiatif warga jadi kurang dan perlu didorong."

Kini, masyarakat telah merasakan demokrasi yang sebenarnya dalam artian bila kita tidak menyukai suatu kebijaka Pemerintah, maka kita bisa aktif untuk mengubah secara aktif. Misalnya dengan audiensi, kerjasama dengan LSM atau membuat petisi.

Namun sayang, banyak diantara kita yang masih terbawa dengan iklim otoriter itu. Menurut Afra, kuncinya adalah dengan berpartisipasi memegang kendali. Β Pamflet berharap anak muda di Indonesia bisa menganalisis kondisi sosial di lingkungan mereka dan kritis dalam memandang sebuah permasalahan.

"Pamflet memilih untuk jadi lebih spesifik. Karena kami meihat silent majority itu akan beralih ke pihak yang lebih kuat. Fungsi pergerakan ini juga untuk menggiring massa mengambang," jelasnya.

(ass/fip)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads