Sejak tahun 2013 ini, sekolah seni tersebut telah menjadi sekolah resmi yang setara dengan SMA. Wanita yang akrab disapa Ira itu membuat Erudio School or Art karena berdasarkan pengalamannya yang sulit mencari sekolah seni untuk sang anak.
"Banyak anak yang sudah tahu ingin memilih jalur seni, namun tidak tahu harus masuk ke sekolah mana," katanya kepada DetikHot, pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orangtua bisa saja mendukung kegiatan seni untuk dikembangkan sebagai bakat, tapi sulit menerima kalau si anak memilih untuk menjadi seniman," ujarnya.
Dia Ira pun menyimpulkan bahwa seniman Indonesia yang dikenal oleh para orang tua biasanya adalah sosok Basuki Abdullah, Affandi atau Raden Saleh. Menurutnya, dunia seni yang ada saat ini kurang ramah informasi terhadap publik umum.
Dampaknya pun jelas, galeri atau museum menjadi tempat yang asing bagi sebagian orang tua. Mau tak mau harus ada banyak siasat yang dilakukan sekolah seni untuk membuka mata orangtua agar mereka paham bahwa dunia seni tidak seperti yang dipikirkan.
Ada stigma dan stereotipe bahwa seni berarti masa depan yang suram. Ira ingin mengubah hal itu. Dia menjelaskan, inti dari Erudio bukanlah menciptakan seniman, melainkan sebuah cara berpikir dengan beragam disiplin ilmu.
“Masalah yang kita hadapi kerap adalah kita belajar tanpa tahu tujuan dan relevansi dari apa-apa yang kita pelajari. Saya ingin anak-anak di sekolah saya tahu untuk apa mereka belajar dan bisa membuat pilihan bagi diri mereka sendiri,” kata Ira.
Erudio melakukan edukasi dan sosialisasi, misalnya memperkenalkan profesi-profesi yang ada di bidang seni. Edukasi juga dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada anak bahwa belajar seni tidak harus menjadi seniman.
"Seni adalah cara berpikir, cara melihat dan berempati, mengenai rasa yang aplikatif pada profesi apapun," ujarnya.











































