Seniman jalanan Banksy, sering melontarkan kritiknya atas realita yang bergulir di jalur kapitalisme. Banyak pihak yang melabelkan Banksy sebagai seorang anti-kapitalisme dan anti-perang. Di sisi lain, Banksy pernah menuliskan dalam situs pribadinya, sebuah ungkapan satir mengenai kapitalisme.
"Kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah dunia hingga kapitalisme runtuh. Sementara itu, kita semua harus pergi belanja untuk menghibur diri," ujarnya.
Meski ungkapan ini masih multi-tafsir, namun, berkali-kali Banksy menuangkan cemoohannya pada sistem kapitalisme global. Banyak gerakan yang ia dedikasikan untuk bisa diakses publik secara gratis. Sementara ia sadar penuh, kalau karyanya itu selalu laris manis dan dihargai tinggi oleh para kolektor di pusat pelelangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepuluh tahun silam, tepatnya pada Juli 2003, ia bicara kepada jurnalis dari The Guardian, Simon Hattenstone. Simon mendeskripsikan Banksy sebagai pria kulit putih berusia 28 tahun.
Kepada Simon, Banksy mengutarakan bahwa ia telah menolak banyak pekerjaan iklan untuk perusahaan besar. "Hingga saat ini, saya sudah menolak empat pekerjaan dari Nike," ujarnya seperti dilansir dari The Guardian (11/11/2013). "Mereka menawarkan saya uang yang sangat banyak, tapi saya tidak butuh uang. Saya tidak suka ada anak kecil yang harus kerja membanting tulang dengan melakukan hal-hal gila."
***
Tapi, tak selamanya semua pekerjaan komersil ditolak Banksy. Masih di tahun 2003, ia menerima tawaran grup musik asal Inggris Blur untuk membuat cover albumnya. Dalam album ke tujuh Blur yang berjudul Think Tank, Banksy menyuguhkan warna tembaga dengan manusia berkepala baja. Mengarahkan pada makna soal industrialisasi dan nilai manusia.
Banksy mengutarakan argumennya kepada jurnalis Will Ellsworth-Jones. "Saya perlu melakukan beberapa hal untuk membayar tagihan, mengerjakan cover album Blur salah satunya," ujarnya.
Ia menjelaskan bagaimana sesuatu yang komersil belum tentu merupakan sampah. "Melakukan sesuatu yang komersil tidak lantas mengubah ini menjadi sampah. Ada perbedaan penting saat kita membuat sesuatu yang kita percaya atau tidak."
Celotehnya semakin serius dalam wawancara itu, bagi Banksy kapitalisme memang mengandung kontradiksi yang sulit dihindari dalam kehidupan. Kecuali kita benar-benar menjadi seorang sosialis yang sama sekali menolak bentuk kapitalisme. "Kadang-kadang ada simbiosis dalam kontradiksi itu, seperti situasi pekerjaan dengan Blur," jelasnya.
***
Kita kembali ke tahun 2013, grup musik Blur datang ke Indonesia dalam acara bertajuk Big Sound Festival pada 15 Mei 2013 lalu. detikHOT berkesempatan mewawancarai langsung dua personil dari band Blur, yakni, Alex James dan Graham Coxon. Bicara panjang soal perjalanan musik mereka dari era 90-an dulu.
Akhirnya kisah kerjasama dengan Banksy pun ikut terangkai menjadi cerita. Graham Coxon mengaku belum pernah bertemu sosok Banksy. "Pernah, di Coachella," selak Alex James Mei lalu di Hotel Four Season, Jakarta.
"Ini keuntungan menjadi band oldschool. Kami jadi punya kesempatan untuk bekerja sama dengan banyak seniman hebat dalam mengerjakan cover album," ujar Alex. Lebih serius, Alex membahas bagaimana Banksy dimatanya. "Dia salah satu favorit saya! Saya pikir selalu ada kesempatan bagi seniman dan musisi untuk saling mengatakan banyak hal ke satu sama lain."
Sementara Graham Coxon, mengaku lebih suka tembok yang bersih dari coret-coretan. "Menurut saya susunan batu bata sudah indah. Tidak perlu dekorasi lagi, kecuali diwarnai dengan cat yang bagus. Tapi grafiti, menurut saya menjadi semakin kuat. Saya menghargai keindahan dari sebuah desain tanpa ada gangguan dari anak nakal. Tapi Banksy berbeda, di London ia sudah seperti Monalisa, Banksy-lisa ha-ha."
(ass/utw)











































