Kala itu, ia membawa komik yang berisi curhatan anak-anak yang berada di lembaga pemasyarakatan sebagai proyeknya. Lulusan Insititut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini sudah menggerakkan 'Komik Curhat' di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tangerang sejak 2005 hingga kini.
"Di sana saya bikin kelas komik curhat. Kelas ini akhirnya masuk ke program psiko-sosial. Jadi di lapas ada pojok curhat, kalau saya yang isi, mereka curhatnya lewat gambar lalu dipajang di majalah dinding," ujarnya kepada detikHOT Senin (4/11/2013) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2006, ia juga mendapat kesempatan untuk membuat pameran komik di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan. "Ini pameran pertama dan orang-orang baru pada tahu bahwa ada komik di lapas anak."
Sementara untuk Jakarta Biennale 2009, ia menambahkan unsur interaksi antara anak-anak penghuni lapas dengan anak-anak yang datang dari tujuh sekolah berbeda. Anak sekolah itu dibawa ke lapas, kemudian diajak membuat kelompok bersama.

Tema yang diangkat saat itu adalah soal imajinasi ruang. "Ini sangat menarik karena pemaknaan anak yang bebas dan yang ada di dalam penjara soal ruang itu kan beda," jelasnya.
Maman juga memiliki komunitas bernama Rumah Tanja Jendela (RTJ). Komunitas yang menempati sebuah kontrakan kecil, ia menerima anak-anak yang baru keluar dari tahanan untuk tinggal sementara disana, hingga mereka berani untuk pulang.
Anak-anak di sini juga dibekali lokakarya, agar ke depannya mereka bisa mengembangkan proyek seni dan menjadi fasilitator.
***
Lalu apa yang membuat Maman menjadi dekat, dan bisa menggandeng 'orang-orang terpinggirkan' dalam karyanya?
Menurutnya, aktivitas seni rupa bisa menjadi alat komunikasi, agar orang lain tahu apa yang kita rasakan. Baik dalam proyek Komik Curhat maupun melukis gerobak ala tim Mr.Gro."Saya sebenarnya ingin membuka jalur komunikasi."
Ia juga memberi pancingan untuk terbukanya ruang multi disipliner, agar para intektual yang datang dari disiplin ilmu lain mampu memberikan respon.
"Karena ini ada pesan dari tukang gerobak, orang yang dikasih kesempatan ngomong lewat medianya. Kita memfasilitisai mereka agar yang mereka sampaikan bisa jadi lebih menarik."
Jadi, ia berharap dengan terbukanya ruang untuk berdialog, seni artinya mampu untuk bisa mengurangi bentangan jarak. "Seni itu enggak seperti menara gading, seni itu sehari-hari. Soal labelisasi tentang harga mahal itu ada mesin yang menggerakkan dan menjadi komoditas, tapi kita bisa menerobas itu," kata Maman.
"Saya juga iseng, kadang ada lukisan yang saya buat gaya Djoko Pekik, atau pop-art-nya Basquiat. Supaya mereka (penarik gerobak) juga jadi bisa menikmati."
Media gerobak pun ia pilih karena ini bisa diartikan sebagai mural mobile. Ini bisa berhenti di manapun dan tidak akan dipermasalahkan orang.
"Kalau saya yang penting pesannya terbaca. Kalau kita bikin sesuatu, ingin pesannya cepat sampai ke sebanyak orang," tutupnya.
(utw/utw)











































