Pertanyaannya kemudian ingin diisi apa kala mata terjaga itu? Khususnya untuk perempuan, apa saja yang biasanya mereka lakukan?
Dari ide dasar inilah, sebanyak 15 perupa perempuan muda yang tergabung dalam Ruang Rupa (Ruru) membuat pameran bertemakan 'Begadang, Neng?'. Meski pameran sejak tanggal 25 hingga 27 Oktober lalu sudah usai, namun konsep begadang akan selalu asyik dibahas dan tak pernah ada habisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi perupa Dila Ayu, seniman selalu identik dengan kata begadang. Bahkan ia dan suaminya juga sering begadang menyelesaikan pekerjaan.
"Awalnya di Ruru, anak-anak sering banget begadang. Dan memang idenya dari situ. Suami saya juga suka begadang," katanya kepada detikHOT Jumat (25/10/2013) lalu.

Ia bersama kawan-kawan perupa lainnya juga penasaran jika wanita begadang apa saja yang dilakukannya. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan desain grafis ini juga mengatakan jika proyek seni ini dikonsepkan oleh mereka selama dua bulan sebelumnya.
"Persiapannya agak mepet juga, aku konsepkan dan kita mulai siapkan semuanya itu kira2 dua atau satu setengah bulan lalu," kata Dila.
Di Ruru, kata dia, ada proyek seni atau art project yang dilakukan tiap dua bulan sekali, khusus untuk komersil maupun dipajang di Ruru Shop. βUntuk artist merchandise atau art project yang dijual di Ruru Shop.β
Konsep begadang ini tidak berlaku bagi mereka yang memiliki βwaktu hidupβ dan βwaktu tidurβ yang biasa saja. Beberapa profesi pekerjaan menuntut seseorang untuk menukar waktu tidur mereka dan menjadi makhluk malam atau nocturnal.
Di pameran kali ini, Dila memakai empat barang yang identik dengan tema begadang. Di antaranya, sarung bantal, jam, kaos, dan totebag. Mengapa memilih keempat barang tersebut?
Wanita kelahiran 1985 ini mengatakan jika benda-benda tersebut identik dengan tema begadang. βJadi para artist merchandise ini kita undang untuk membuat barang-barang merchandise. Mereka yang desain sesuai dengan maunya,β ujarnya.
Menurutnya juga keempat barang tersebut adalah representatif bisa digunakan sehari-hari. Jika jam berhubungan dengan waktu, sarung bantal dengan medium untuk tidur, kaos digunakan sebagai barang sehari-hari dan totebag sangat ciri khasnya wanita.
Sedangkan para senimannya merupakan mereka yang pernah melakukan pameran bersama atau bisa dibilang sebagai orang yang terlibat di proyek-proyek Ruru.

Dila memamerkan karya terakhirnya bertema 'Home: Transformation', untuk PMR CUBE Contemporary Culture Interplay di Atrium Sampoerna Strategic Square dua tahun lalu.
βSaya pilih untuk buat jam dinding, totebag, dan kaos. Jam dindingnya sengaja warna latar belakangnya putih dan ada wanita berambut panjang yang dikasih warna merah,β ujarnya.
Kini, barang-barang hasil kreasi dari perupa perempuan Ruru Gallery bisa dilihat juga di toko mereka yang terletak di Jalan Tebet Timur Dalam Raya. Anda juga bisa membeli dan menawar produk tersebut dengan rata-rata harganya di bawah Rp 500 ribu.
(utw/utw)











































