Pemuda asli Bandung ini pernah menangani kustomer wanita yang tidak tahan terhadap sakit. Padahal, tato yang diinginkan hanya berukuran kecil.
"Waktu itu ada cewek bikin tato-nya sih kecil banget cuma 1 x 1 sentimeter, tapi teriak-teriaknya sudah seperti orang mau melahirkan," kata Kimik kepada detikHOT, Rabu (30/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jelas orang-orang pada keluar tanya ada apa. Teriaknya kencang banget," ujarnya.
Kimik sendiri mengaku cukup shock karena suara teriakan yang heboh tadi. Tapi, hal tersebut sudah biasa terjadi ketika ia sedang melakukan proses tato.

Hanya saja, antara kustomer pria dan wanita punya karakter berbeda dalam menghadapi rasa sakit. Pria cenderung jaim (jaga imej), sementara wanita jauh lebih ekspresif.
"Namanya ditato bohong kalau enggak sakit. Kebanyakan yang lebih ekspresif cewek. Cowok juga ada yang tadinya nahan terus lama-lama teriak. Cuma enggak banyak yang begitu. Biasanya cuma ekspresi meringis," ujarnya.
Meski kadang mengganggu, ayah dua anak ini tidak pernah marah atau kesal berlebihan. Sebagai artist tato profesional, dia harus menenangkan klien bahwa rasa sakitnya hanya sebentar.
"Mau marah ya enggak bisa karena kami tahu ditato memang sakit. Tapi, orang kan beda-beda, ada yang bisa tahan, ada yang enggak. Paling berusaha ditenangkan saja," kata Kimik.
(utw/utw)











































