Pantang Tato Di Leher Karena Takut Sulit Dapat Jodoh

Serba-serbi Dunia Seni Tato (1)

Pantang Tato Di Leher Karena Takut Sulit Dapat Jodoh

Firda Puri Agustine - detikHot
Jumat, 01 Nov 2013 10:50 WIB
Pantang Tato Di Leher Karena Takut Sulit Dapat Jodoh
Sean Anthony (dokpri)
Jakarta - Bicara soal tato, memang akan mengundang beragam kesan berbeda-beda di tiap kepala orang. Ada yang memandang dengan stigma negatif, tapi di dunia modern saat ini banyak pula yang
menganggap ini sebagai tren yang gaya dan seni.

Apapun pilihan memandang sebuah tato, bagaimana proses kreatif dibalik pembuatan sebuah tato tetap menarik disimak. Misalnya saja mengapa ada area tertentu di tubuh yang sebaiknya tidak dirajah.

Atau mengapa pria cenderung jaga imaje saat ditato. Padahal bahkan seorang seniman tato saja mengakui tak ada tato yang benar-benar bebas rasa sakit. Simak liputan unik detikHOT berikut seputar dunia tato.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

***

Memiliki ayah yang 'tatoan' menginspirasi Sean Anthony melakukan hal serupa. Pemuda 22 tahun ini akhirnya memiliki banyak tato hampir di seluruh tangan dan kaki.

Namun, ada satu bagian tubuh yang ingin ia gambar dan belum kesampaian hingga kini, yakni leher. Bukan karena berbahaya, melainkan takut pada kepercayaan yang dianut.

"Saya ingin sekali punya tato di leher. Tapi, karena saya Chinese, ada semacam mitos atau kepercayaan katanya kalau tato di leher itu takut susah dapat jodoh," kata Sean kepada detikHOT, Selasa (29/10/2013).

Maklum, pria asal Bandung tersebut memang masih lajang dan mencari sosok wanita untuk masa depan, sehingga mitos atau pantangan semacam itu wajib diikuti.

Selebihnya, tubuh Sean rela dibanjiri berbagai jenis tato. Ya, karena sejak kecil, dia sudah menyukainya. Bahkan, jatuh cinta sampai mati.



"Passion saya memang ada di tato. Seperti apa ya, jiwa mungkin ya. Mungkin pengaruh dari ayah saya ditambah lingkungan juga," ujarnya.

Pemilik studio tato Light of God in Tattoo (Login) ini bilang, tato merupakan bagian dari karya seni yang punya nilai kenikmatan tersendiri. Tak berbeda dengan karya lukis atau sejenisnya.

"Seperti karya seni saja. Saya percaya semua orang sebenarnya suka tato karena masing-masing punya sense of art. Hanya sering tertutup oleh persepsi negatif," kata Sean.
















(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads