"Papa adalah orang yang praktis dan realistis. Ia seorang yang bijaksana, luhur budi pekertinya dan ekonomis. Ia pasti tidak suka segala bentuk kemubaziran, termasuk yang menyangkut jasadnya sendiri," kata Merdeka menimbang-nimbang.
Setelah tiga jam berpikir terus-menerus, akhirnya ia memutuskan untuk memotong kedua tangan bapaknya dan kemudian memasangnya di tubuhnya sendiri. Ia juga hampir saja hendak memotong kedua kaki papanya, tetapi dokter yang memasang memprotes, sebab ia melihat ada penyakit dikaki orang tua itu. βTangannya saja cukup, kau cukup mewarisi ringan tangannya, tidak perlu darah petualangan dikakinya, jangan nanti kamu keluyuran ke sana-ke mari seperti gombal," kata dokter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerpen kocak namun menyimpan "teror mental" khas Putu Wijaya itu dibacakan kembali oleh pengarangnya di sesi 'Malam Para Empu' di hari terakhir perhelatan Bienal Sastra Salihara - Sirkus Sastra di Komunitas Salihara, Jakarta, Minggu (27/10/2013) malam. Walau agak terbata-bata, Putu belum kehilangan pesonanya sebagai pembaca cerpen ulung.
Seperti biasa, ia menghapal baris demi baris cerpennya di luar kepala. Namun, karena kondisi kesehatannya yang belum pulih benar dari serangan stroke beberapa waktu lalu, Putu malam itu didampingi seorang 'asisten' yang tak lain puteranya sendiri, Taksu Wijaya.
Cerpen tersebut ditulis tahun 1980, berjudul 'Sepi' dan termuat dalam buku kumpulan cerpen 'Es'. Belakangan, Putu mengubah judul cerpen tersebut menjadi 'Merdeka'. Hal itu ia lakukan karena terinspirasi oleh terjemahan seorang pakar sastra Indonesia Michael Bodden.
"Bodden menerjemahkan nama tokoh cerita Merdeka menjadi Mr Liberty. Walau awalnya merasa lucu, tapi lama-lama saya setuju, sebab nama tokoh itu memang punya makna tersendiri," tutur Putu.
Selain cerpennya yang kocak, ada kejadian lucu malam itu. Penonton yang berkali-kali tertawa, rupanya lama-kelamaan mempengaruhi konsentrasi Putu sehingga hapalannya pun menjadi buyar.
"Ketawanya jangan keras-keras nanti saya lupa," katanya, yang tak urung disambut tawa yang semakin riuh oleh hadirin. Dan, memang benar saja, setelah itu, Putu jadi kurang lancar menuturkan ceritanya. Beberapa kali ia bertanya pada sang 'asisten', "Setelah ini apa?"
Rupanya hal itu membuat Putu jadi kesal sendiri. "Padahal tadi saya hapal banget lho," keluh pendiri Teater Mandiri serta sutradara dan penulis skenario film dan sinetron yang malam itu berusia 69 tahun tersebut.
(mmu/mmu)











































