Β
Namun, versi legenda rakyat tak kurang asyiknya untuk dinikmati. Tak sekadar buat dongeng sebelum tidur, kisah ini juga layak untuk ditelaah.
Β
Konon, seperti juga yang ditampilkan dalam Opera Batak 'Perempuan di Pinggir Danau', Danau Toba muncul karena kemarahan alam yang dipicu perilaku Samosir.Β

Β
Samosir karena kerakusan anaknya menghina Sondang Nauli, istrinya yang merupakan jelmaan ikan. Padahal saat menikahi Sondang, Samosir berjanji tak akan mengungkit masa lalu Sondang. Samosir gagal menjagai hati Sondang.
Β
"Kisah ini kan dikaitkan dengan konteks saat ini benar terjadi. Manusia yang telah diminta menjaga lingkungan tidak dilakukan," kata Lena. "Padahal ketika janji diingkari yang terjadi pastilah hilangnya martabat manusia dan bencana."
Β
Sementara itu Thomson Hs, saat workshop pementasan ini mengatakan, memang masyarakat khususnya ibu-ibu yang tinggal di tepi Toba.
Β
"Kalau saya tanya mereka 'Inang, tak takut sama ombak besar Toba?' Mereka jawab, 'Ah, biasa itu, kalau Toba jadi tenang, nah itu baru jangan-jangan ada apa-apanya," kata Thomson.
Β
***
Β
Masalah perempuan dan air, kata Lena memang tak bisa dilepaskan begitu saja satu dengan yang lainnya. "Ini adalah masalah seluruh dunia. Toba bukan hanya persoalan orang Batak, ini persoalan seluruh dunia," kata Lena.
Β
Perempuan yang telah 25 tahun terakhir tinggal di Jerman bersama keluarganya tapi masih sering bolak-balik Indonesia dan mengamati masalah perempuan di tanah air ini juga percaya bahwa jika tak hati-hati suatu saat manusia bisa berperang karena air.
Β
"Dulu kita bisa berperang karena minyak. Tapi jumlah air di dunia ini segitu-gitu saja, tapi kualitasnya semakin menurun," katanya.
Β SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian pula persoalan perempuan. Menurut relawan yang sering bekerja dengan perempuan-perempuan akar rumput di beberapa pelosok Nusantara ini sosok perempuan sering terpinggirkan karena hilangnya martabat perempuan.
Β
"Tak salah jika kita menyebut lingkungan sebagai ibu bumi. Dalam bahasa Batak kami menyebutnya Inang Soripada," kata Lena.
Β
Untuk mengangkat kembali martabat manusia khususnya perempuan yang semakin dianggap angin lalu inilah, Lena membuat naskah opera ini.
Β
"Proses kreatifnya sudah dilakukan selama bertahun-tahun lewat perenungan saat saya pulang ke Toba," kata Lena. Dia yakin perbaikan bisa dimulai ketika kita bisa mengangkat martabat perempuan seperti yang coba dilakukannya lewat naskah opera ini.
(utw/ass)











































