Β
Pertunjukan ini disadur dari karya dramawan asal Jerman, Bertolt Brecht berjudul Mutter Courage und ihre kinder atau Mother Courage and Her Children. Lakon ini berkisah perang abad ke 17 yang tetap menjadi dasar politik masa kini.
Β
"Jangan melihat lakon ini bagus karena dari luar, tapi persoalan manusia itu ada di mana-mana," kata sutradara Nano Riantiarno saat jumpa pers di Galeri Indonesia Karya, West Mall Grand Indonesia lantai 8.
Β
Di Indonesia, juga membicarakan persoalan perang, khususnya menjelang April 2014. Dalam lakon akan ada pasukan hitam dan putih, namun, kata Nano, itu adalah simbolisasi perang yang sedang berkecamuk saja.Β

Β
"Karakter Ibu ini berada di dalam kondisi perang. Ketiga anaknya mati ketika perang. Ibu Brani yang tadinya tidak peduli keadaan sekitarnya, harus memilih berada di antara ambisinya atau menjadi korban perang," katanya.
Β
Tema ini pun, kata pria yang akrab disapa Nano sesuai dengan yang terjadi di Indonesia. Negara ini berdiri di ambang realitas dan idealisme.
Β
Pendiri dari Teater Koma ini sendiri sudah menyiapkan naskahnya sejak tahun 1980an. Ia pun sudah merevisinya beberapa kali. Di tahun 2010, sebelum pentas lakon Sie Jin Kwie, Nano sudah ingin mementaskannya.
Β
"Tadinya saya yakin untuk membuat pertunjukannya, tapi sepertinya ada yang kurang lagi. Lalu Sin Jin Kwie sampai kemarin. Tapi kalau Ibu diperankan Sari Madjid 2010 kurang terasa tua dianya," ujar Nano.
Β
Tokoh utama lakon Ibu diperankan oleh Sari Madjijd yang sudah akrab dengan penonton Teater Koma. Ia pernah memainkan peran Engtay sebanyak 80 kali di lakon Sampek Engtang sejak 1988 hingga 2004.
Β
Di pertunjukan kali ini, Nano didampingi oleh Ohan Adiputra sebagai co-sutradara dan Ratna Riantiarno sebagai pimpinan produksi. Selain itu, juga terdapat aktor dan aktris Teater Koma, seperti Rita Manu Mona, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah, Daisy Lantang, Budi Ros, dan Supartono JW.
Β
"Kisah Ibu Brani adalah refleksi bagi diri kia sendiri di tengah kekisruhan di berbagai aspek kehidupan. Apakah kita masih mempertahankan ambisi pribadi untuk ambil keuntungan atau membantu sesama," ujar Sari Madjid.
Β
Pementasan Ibu ini akan digelar setiap hari di Graha Bakti Budaya TIM, mulai tanggal 1 hingga 17 November dari pukul 19.30 WIB. Sedangkan di hari Minggu pentas akan dimulai pukul 13.30 WIB.
(tia/utw)











































