Dari Balik Topeng, Pandangan Pemain Teater Noh Terbatas

Mengenali Jepang Lewat Topeng Noh (6)

Dari Balik Topeng, Pandangan Pemain Teater Noh Terbatas

Tia Agnes Astuti - detikHot
Jumat, 18 Okt 2013 14:40 WIB
Dari Balik Topeng, Pandangan Pemain Teater Noh Terbatas
Penampilan Noh. (Tia Agnes/detikHOT)
Jakarta - Dua orang pemain musik Noh memasuki panggung. Seorang pria berpakaian kimono membawa taiko atau gendang Jepang. Satunya lagi adalah wanita pemain suling.

Selama lima menit pertama, mereka memainkan musik tersebut. "Tai you.. tai you..,"kata-kata itu selalu diulangi si penabuh taiko, Richard Emmet.

Musik awal pembuka tersebut dilanjutkan dengan pementasan inti dari Noh. Rabu sore (16/10/2013), detikHOT pertama kalinya menonton pertunjukkan Noh di Japan Foundation, Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Ruangan tersebut dipenuhi pengunjung. Panggung kecil yang hanya muat sekitar empat pemain tersebut terasa penuh. Setelah musik dan nyanyian pembuka, Matsui Akira, sang penari Noh sebagai tokoh utama atau shite memasuki panggung.

Pria tersebut memakai kostum Noh yang memang besar dan berlapis-lapis. Ia memakai topeng koomote dan berperan sebagai perempuan. Tangan kanannya memegang gulungan kertas putih laiknya selendang.

Matsui sudah mempelajari Noh sejak usia 7 tahun. Di usia yang ke 20 tahun, ia aktif mengajar tarian dan Noh Kyogen (nyanyian Noh) ke seluruh pelosok Jepang.

Pria kelahiran Wakayama tersebut mengatakan sudah terbiasa memakai kostum Noh yang beratnya sampai berkilo-kilo. "Tapi yang sulit itu pakai topeng Noh," katanya kepada detikHOT di Japan Foundation.

Khususnya topeng wanita yang dipakainya di pementasan tersebut. Pasalnya posisi mata di topeng Noh memang kecil dan harus mempunyai trik sendiri agar fokus.

"Saya hanya bisa fokus di satu titik. Gerakannya pun tidak bisa hentakan, harus pelan-pelan," ujarnya.

Matsui juga mengatakan triknya agar tidak terjatuh ketika memakai topeng Noh adalah dengan menghitung langkah. "Setiap gerakan dihitung langkah yang ada di panggungnya, harus dihapal. Jika sudah di tepi panggung dan ingin jatuh, lebih baik menjatuhkan diri ke bawah," kata Matsui.



Saran itulah yang selalu diajarkannya kepada murid-muridnya. Ia sendiri sepanjang pengalamannya belum pernah terjatuh dari panggung.

Di antara semua karaker penari teater Noh, kata Matsui, yang tersulit adalah peran yang mengharuskannya tidak memakai topeng.

"Karena saya harus punya ekspresi diri saya sendiri. Sedih tapi enggak boleh nangis, marah juga enggak boleh. Lebih baik pakai peran yang ada topengnya."

Dalam pementasan kemarin lusa, tarian Noh Makiginu atau gulungan sutera menceritakan mengenai kaisar yang menyuruh pengawal kerajaan mengumpulkan seribu gulungan kain sutera untuk disumbangkan ke tiga kuil Kumano di provinsi Kii. Tapi, si pengawal tak menepati janjinya.

Ia dihukum oleh kaisar. Gadis pelayan pendeta dari kuil datang untuk minta ampunan dan menawarkan sebuah puisi untuk menyenangkan hati dewa. Sang gadis mulai dirasuki kekuatan para dewa dan menarikan tarian Kuil Kagura. Ketika pembacaan selesai, ia berhasil kembali ke sosok semula.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads