"Baik topeng Noh dan topeng yang ada di Indonesia saya bilang memiliki kesamaan. Seperti dalam hal ritual sebelum pembuatan topeng," kata koreografer tari asal Yogyakarta, Didik Nini Thowok kepada detikHOT.
Didik merupakan penari yang pernah mendapatkan beasiswa residensi ke Jepang untuk mempelajari tari klasik Noh (Hagoromo). Di sana, ia juga belajar Kabuki dan memuaskan rasa penasarannya terhadap pembuatan topeng Noh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Didik menceritakan saat itu sempat bertemu dengan dua orang maestro pembuat topeng Noh. Dari keduanya, didapatkan cerita bahwa ketika ingin membuat topeng, mereka memakai hitungan hari.
"Sama saja kayak Lunar kalender yang ada di agama Hindu atau di Bali. Mereka menggunakan hitungan hari kapan harus nebang pohonnya, waktu pagi atau siang. Itu dihitung detil," kata Didik.
Tak hanya itu saja, topeng Noh yang digunakan sebagai barang seni maupun ritual di kuil-kuil juga harus memanjatkan doa kepada Kamisame (dewa).
"Mereka berharap dapatkan spirit atau jiwa dari dewanya ketika membuat topeng. Tapi beda lho dengan budaya Jawa atau orang-orang yang sengaja mendoakan biar ada spirit atau makhluk di dalamnya," ujarnya.
Di Jepang, kata dia, segala sesuatunya selalu melakukan penghormatan terhadap Dewa dan leluhurnya terlebih dahulu. "Kata Ogura-san, ritual itu masih ada di para pembuat topeng Noh zaman dulu atau keluarga pembuat topeng yang sudah melestarikan hingga banyak generasi."
Sejarah Noh berkembang sekitar awal abad ke 14. Saat itu pertunjukannya adalah kombinasi antara sarugaku (seni pertunjukan dari Cina) dan dengaku (tarian tradisional Jepang).
Pertunjukan ini mulai dipopulerkan akhir abad ke 14 oleh Kanami Kiyotsugu (1333-1385), dan diturunkan ke anaknya Zeami Motokiyo (1363-1443). Para awal era Edo, Noh mulai tambah populer dan banyak seniman yang mempelajarinya.
Umumnya, ada empat jenis topeng Noh yang dikenakan karakter utama (shite) yaitu raut wajah orang tua (kojo), bangsawan (chujo), wanita muda (koomote), dan iblis (hannya).
Kualitas topeng Noh yang baik akan terlihat ketika mendapatkan sorotan lampu di atas panggung. Wajah dan emosi yang hidup menandakan topeng tersebut dibuat oleh pembuat yang bermutu baik.
Meski pembuatan topeng Noh sudah dikenalkan oleh Zeami di zaman Muromachi (1336-1573), tapi kata Ogura Souei, Indonesia sudah lebih lama memiliki sejarah topeng. "Kami masih baru beratus-ratus abad lamanya. Tapi Indonesia sudah ribuan tahun. Saya kagum, negara ini sudah punya topeng sejak masa itu," kata Ogura.
Jika Jepang sudah membuat topeng Noh sebagai identitas negara, namun Indonesia masih dilestarikan oleh individu atau lembaga kebudayaan di daerah-daerah tertentu saja.
Ogura pun percaya jika pelestarian dan pembuatan topeng Noh terhenti, maka identitas seni pertunjukan tradisional Jepang juga akan mengalami stagnan.
"Oleh karena itu, para pemain atau pembuat topeng Noh seperti ada warisan atau turun temurun dari generasi sebelumnya. Kami pun seperti punya misi untuk selalu membuat topeng Noh hingga ke generasi berikutnya," ujarnya.
(utw/utw)











































