Merdesa, Pak Nur hingga Pong Hardjatmo di Pameran Arsip

Embrio, Pameran Arsip Seni Rupa Indonesia (5)

Merdesa, Pak Nur hingga Pong Hardjatmo di Pameran Arsip

Astrid Septriana - detikHot
Rabu, 16 Okt 2013 16:10 WIB
Merdesa, Pak Nur hingga Pong Hardjatmo di Pameran Arsip
Karya Pak Nur (Astrid Septriana/detikHOT)
Jakarta - Buat Indonesian Street Art Databese (ISAD) diajak menjadi peserta pameran arsip dan pendokumentasian seni rupa Indonesia, berjudul Embrio adalah kesempatan bagus yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Β "Ini kesempatan berharga untuk ISAD mempresentasikan beberapa hal yang kita kerjakan," kata Andi RHARHARHA, salah satu pendiri ISAD.

Salah satu yang mereka presentasikan adalah peristiwa dan arsip berita tentang pencoretan atap gedung MRP/DPR oleh aktor Pong Hardjatmo pada 2010 silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



"Yang ingin ditegaskan, semangat seni dan aktivisme melalui cara yang sederhana, dampaknya bisa besar. Untuk menyuarakan pesan dari orang-orang yang tidak bisa bersuara."

Untuk menyoroti aksi Pong Hardjatmo sebagai sebuah tindak yang masuk dalam kategori seni jalanan atau bukan, Andi mengaku ia berkali-kali mempertanyakan kembali soal hal ini.

"Street art untuk grafiti di Amerika Serikat itu dimulai pada tahun 70-an, di Rusia sudah mulai pada 1918," kata Andi. "Kita spirit-nya sebenarnya mirip dengan gerakan street art di Rusia. Semangatnya propaganda di ruang kota, Pong juga mirip."

Karena grafiti itu mencari tempat-tempat yang strategis, yang tidak disangka orang dan melanggar tata tertib. Maka menurut Andi, apa yang dilakukan oleh Pong Hardjatmo itu sudah menjawab semua kategori.

Ia pun bersenjatakan sekaleng pylox saat mencoret atap gedung hijau itu. "Ini sebuah pencapaian yang belum bisa dicapai oleh orang lain lagi, ini memiliki unsur yang ada di street art, yaitu pemberontakan, kebebasan berekspresi dan menyampaikan sebuah pesan yang jelas."

***

Selain mempresentasikan kejadian tahun 2012 yang ikut mengiring nama POng Hardjatmo untuk berpatisipasi, ISAD juga menggandeng Pak Nur, seniman jalanan yang telah berkali-kali bekerja sama dengan ISAD. Kali ini ISAD menyediakan sebidang tembok untuk Pak Nur berkreasi.





ISAD juga menyajikan dokumentasi gerakan Merdesa. "Merdesa adalah warga negara yang berharap tercapainya kehidupan adil, makmur, sejatera dan layak. Merdesa ingin Indonesia kembali ke UUD '45 dan tetap berlandaskan pada Pancasila," kata Andi RHARHARHA.

Gerakan ini menggunakan grafiti, yang coretannya tersebar dari Aceh, Bandung, Salatiga, Yogyakarta dan lainnya.

ISAD juga mempresentasikan penelusuran arsip propaganda revolusi kemerdekaan RI. "Pesannya adalah semangat serupa yang kini kita sebut street art, itu sudah dimulai waktu revolusi kemerdekaan. Yang kita presentasikan periode waktu 1945-1950. Ada yang bikin grafiti di kereta, poster propaganda dan juga mural."

Salah satu yang khusus adalah presentasi karya dari dialog dengan seniman grafiti, Arks. Ia menghibahkan seluruh dokumentasinya yang terangkum dalam folder-folder untuk ISAD tahun 2011 silam.

Beberapa saat sebelum ia wafat. "Ini seperti inspirasi ke kita bahwa penting banget untuk mewariskan dan berbagi arsip agar nantinya bisa dibaca ulang," ujar Andi.

Seluruh presentasi ISAD dalam pameran di Embrio ini, dimaksudkan untuk memberi gambaran utuh seperti apa scene street art lokal. "Street art di Indonesia kayak begini, ada yang terinspirasi barat, ada yang terinspirasi warga."




(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads