Djokopekik Dikagumi Rekan Sampai Orang Awam

Di Balik Pameran Tunggal Djokopekik (10)

Djokopekik Dikagumi Rekan Sampai Orang Awam

Firda Puri Agustine - detikHot
Jumat, 11 Okt 2013 17:23 WIB
Djokopekik Dikagumi Rekan Sampai Orang Awam
Jakarta - Djokopekik merupakan seorang seniman unik. Punya ciri khas janggut panjang dan rambut putih terkucir, Pekik menegaskan diri sebagai pelukis idealis.
 
Pengalaman hidup dipenjara, disiksa, hingga dikucilkan masyarakat tak membuat ia lemah. Pria berusia 75 tahun ini tetap tegar berdiri dan meninggalkan kesan di mata rekan maupun pecinta lukisannya.
 
Salah satu seniman dan pematung handal era 1960-an, Amrus Natalsya, 80 tahun, ikut merasakan penderitaan Pekik karena ia, yang menjadi ketua Sanggar Bumi Tarung, juga seorang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan pernah pula mengalami siksaan. 



 
"Zaman dulu pahitnya bukan main. Berkesenian saja menderita sekali. Saya, Pekik, dan teman-teman lain merasakan betul hal itu. Tapi, itu pengalaman berharga yang membuat orang-orang seperti kami kuat ditempa perubahan," kata Amrus di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2013).
 
Seperti Pekik, pria asal Medan itu menjadi bagian sejarah yang tak bisa lepas dari LEKRA. Dia marah dan sakit hati karena dituduh seorang komunis atau orang yang mendukung keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI).
 
"Walau usia Pekik dibawah saya, saya salut dengan perjuangan dan prinsipnya yang keras. Kalau saya masih diberi umur, saya mau menggugat ke MK (Mahkamah Konstitusi) bahwa LEKRA adalah organisasi kebudayaan, tidak ada sangkut pautnya dengan PKI, tidak ada hubungannya dengan Aidit (DN Aidit, tokoh PKI). Cerita Aidit itu persoalan lain, tapi LEKRA bukan PKI!" ujarnya dengan nada bergetar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT




Senada dengan Amrus, Misbach Thamrin, 71 tahun, mengaku punya perasaan yang sama. Mereka bertiga adalah kawan senasib sepenanggungan yang melewati suka duka bersama sejak masih muda.
 
Di mata Misbach, Pekik merupakan seorang seniman senior yang merakyat. Gaya lukisan yang kritis dinilai mampu mencuri hati masyarakat awam yang tidak mengerti lukisan sekalipun.
 
"Pak Pekik ini seorang pelukis yang tetap mengkiritisi perkembangan zaman, seniman yang merakyat. Apa yang disimpan dalam hati, itulah yang dia tuangkan dalam kanvas," kata Misbach.
 
Pekik sendiri merasa senang sekaligus terharu melihat dua rekan sejawatnya bisa turut menyaksikan pameran ini. "Mereka guru-guru saya. Pak Amrus ini senior, guru yang mengajarkan saya banyak hal, lebih dari sekedar bikin patung. Begitu juga Misbach yang paling muda di antara kami. Mereka adalah orang-orang hebat," ujarnya.
 
Seniman muda asal Yogyakarta, Ong Hari Wahyu punya kesan mendalam terhadap sosok Pekik dan tokoh seniman tahun 1960-an. Meski punya karya fenomenal, Pekik bukan-lah orang sombong.
 
"Ya, dia sempat tidak percaya diri. Tapi, terus didorong agar mau bikin pameran. Djokopekik ini seniman antik. Gayanya dia unik sekali. Maka, akan terasa sayang jika tidak dibuatkan pameran. Generasi muda, seniman muda, perlu kenal siapa Djokopekik," kata Ong yang dianggap Pekik sebagai 'sutradara' pameran.
 
Lalu, bagaimana tanggapan generasi muda? Ijtihadi Wibawa, 26 tahun, seorang mahasiswa kesenian mengaku kagum atas karya dan perjuangan semua seniman lawas, termasuk Djokopekik.
 
Khusus Pekik, dia melihat lukisannya memiliki 'nyawa' yang seolah dapat berbicara pada penonton. Idealismenya juga begitu kentara sehingga mampu menjadi inspirasi bagi banyak orang.
 
"Saya salut dan kagum banget sama karyanya Pak Pekik. Pelukis idealis yang mampu mempertahankan idealismenya di zaman yang seperti ini. Ternyata, idealis itu enggak kenal usia," ujar Ijtihadi.
 
Hal serupa diungkapkan Andre Diantomo, 27 tahun, seorang pegawai swasta. Dia mengaku bukan seorang pecinta lukisan, tapi melihat lukisan Djokopekik, hatinya seperti tersentuh.

 


"Sebagai orang yang awam, lukisan Pak Djokopekik menurut saya mudah dipahami dan sesuai realita yang terjadi kayak lukisan yang ada gambar hakim makan ayam hidup itu," kata Andre.
 
Pria yang tinggal di Klender, Jakarta Timur ini sebelumnya tidak tahu siapa Djokopekik dan bagaimana latar belakangnya. Setelah diberi tahu, dia menjadi ingin belajar tentang sejarah.
 
"Ternyata hebat juga ya bisa bertahan sampai sekarang dan luar biasa harga lukisannya bisa sampai Rp 1 miliar," ujarnya.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads