Introspeksi Diri, Djokopekik Bikin Patung 'Berburu Pekik'

Di Balik Pameran Tunggal Djokopekik (8)

Introspeksi Diri, Djokopekik Bikin Patung 'Berburu Pekik'

Firda Puri Agustine - detikHot
Jumat, 11 Okt 2013 16:01 WIB
Introspeksi Diri, Djokopekik Bikin Patung Berburu Pekik
Berburu Pekik (Firda Puri Agustine/detikHOT)
Jakarta -

Djokopekik mencintai seni hingga ke dasar jiwa. Selain melukis, diam-diam ia mengembangkan bakat sebagai pematung.

Dalam pameran tunggal 'Zaman Edan Kesurupan' yang digelar di Galeri Nasional, Jakarta Pusat selama satu pekan ke depan, pria yang akrab disapa Pekik itu memperlihatkan tiga karya patung yang dibuat secara orisinil tahun ini.

Patung pertama berjudul 'Berburu Celeng', diambil dari seri lukisannya pada 1998. Kedua, 'Berburu Pekik' yang merupakan simbol kontemplasi diri. Terakhir, 'Memanah Matahari' sebagai luapan kegembiraan Pekik setelah bebas dari penjara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



"Saya ini aslinya bukan pematung, hanya tukang gambar. Tapi, terus belajar dan akhirnya saya senang juga," kata Pekik di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2013).

Salah satu yang menarik adalah patung 'Berburu Pekik' berukuran 200 X 400 X 100 cm yang diakuinya sebagai bentuk introspeksi diri sendiri selama hidup puluhan tahun.

"Patung itu maksudnya saya berburu diri saya sendiri, mengoreksi tingkat angkara murka saya sudah sampai dimana," ujarnya.

Patung ini dibuat secara tidak sengaja karena idenya diambil dari sebuah pembuatan poster acara instalasi seni Biennale Seni Lukis di Yogyakarta yang memajang fotonya dalam ukuran besar.



Proses kreatif pun diakui Pekik berjalan cukup unik karena ia harus benar-benar digotong dengan tangan terikat dan posisi tubuh mirip lukisan 'Berburu Celeng'.

"Inginnya membuat sesuatu yang beda. Jadi, saya benar-benar dipikul, dipotret begitu untuk contoh gambar biar patungnya seperti bentuk aslinya. Rasanya sih sakit juga dipikul begitu, tapi ya mau-mau saja," katanya.

Beda lagi dengan patung 'Memanah Matahari'. Makna yang ingin diungkap bapak 8 anak itu cukup dalam. Sebagai luapan rasa gembira karena bisa menghirup udara bebas dan merasakan hangatnya sinar matahari.

"Dulu saya pernah masuk kamp, disiksa dan diinjak oleh sesama manusia sampai pengorbanan berdarah-darah. Yang saya lihat hanya gelap dan dingin. Itu paling kejam bagi manusia hidup. Begitu bebas, saking gembiranya, matahari pun akan saya panah," ujar Pekik.

Kakek berusia 75 tahun ini mengaku karya patung dan lukisan yang dipamerkan tidak untuk dijual, melainkan menjadi koleksi untuk memberi pelajaran kesenian bagi pelajar, mahasiswa, maupun peneliti.

"Banyak mahasiswa sama peneliti datang ke tempat saya untuk wawancara atau kuliah umum. Jadi, tidak saya jual. Karena banyak gunanya, makanya dipertahankan," katanya.

"Kalau semua dijual, wah bisa sehari dua hari habis," tambah Pekik.











(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads