Tak banyak orang mampu bertahan dalam penderitaan. Salah satunya Djokopekik. Segala bentuk penindasan pernah ia alami. Namun, idealisme dan semangat hidup membuatnya kuat.
Pria berusia 75 tahun ini bilang bahwa seni adalah jalan hidup yang ia pilih. Sebagai seorang seniman, yang wajib dilakukan tak lain berkarya, bukan bekerja seperti orang kantoran.
"Yang membuat saya tetap semangat karena saya harus hidup, saya harus berkarya. Seniman itu berkarya bukan bekerja," kata Djokopekik di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantaran prinsip idealis itulah, bapak 8 anak ini rela hidup sengsara dan mencari sesuap nasi dari menjual kemampuan menjahit. Tak pernah terbersit sedikit pun keinginan punya harta berlimpah dari melukis.

"Saya melukis bukan mencari kenikmatan hidup. Tapi, kepuasan batin. Dulu ndak mengerti bahwa nanti punya mobil dari melukis. Ndak ada gambaran ke situ. Hanya ada semangat saja," ujarnya.
***
Gaya bicara dan penampilan nyentrik pria kelahiran Purwodadi, Desember 1938 ini menyatu dengan hasil lukisannya. Banyak ahli bilang, dia punya aliran sendiri. Hampir semua lukisan seolah punya nyawa dan mampu membawa penonton larut.
Pada 1998, Pekik pernah membuat heboh dengan menjual lukisan seharga Rp 1 miliar. Lukisan berjudul 'Indonesia 1998 Berburu Celeng' itu memberikannya predikat sebagai Pelukis Satu Miliar'.
Namun, jangan kira bahwa hal tersebut menunjukkan materialisme atau komersialisasi karya seni. Justru Pekik mengedepankan idealismenya sebagai seniman.
"Saya memang tidak berniat menjual lukisan 'Berburu Celeng' itu. Tidak sama sekali. Tapi, banyak orang terus menerus menawar dan menanyakan, sampai mau memilikinya,"kata Pekik.
"Ya, sudah saya bilang saja harganya Rp 1 miliar. Sengaja saya tetapkan harga itu karena dipikir itu angka yang tidak masuk akal dan tidak mungkin ada orang yang mau membeli."
***
Ternyata, sangkaan kakek 17 cucu ini salah besar. Ada tiga pihak yang tetap ingin memiliki dan sanggup membayar lukisan seharga yang ia tetapkan.
Pihak pertama yakni seorang kolektor dari Jerman. Kedua, sebuah museum di Singapura. Terakhir, pengusaha dari Yogyakarta.

Pekik memilih melepas lukisannya pada pihak terakhir, yakni pengusaha dari Yogyakarta. Alasannya, karena ia seorang nasionalis sejati. Lebih baik lukisan itu berada di negerinya sendiri.
"Ya, kan saya yang punya lukisan. Terserah saya juga mau jual berapa dan memutuskan menyerahkan ke siapa. Saya pilih lepas ke pengusaha Yogyakarta saja karena sama-sama ada di sini," ujarnya.
Pekik memang seniman unik. Dia tidak peduli apapun yang dikatakan orang lain saat lukisan satu miliarnya jadi pembicaraan. Seperti ia juga tidak mau mengurusi urusan orang lain.
(utw/utw)











































