Jembatan Bacem, Saksi Bisu Pembunuhan Massal.

Menjelajahi Akar Budaya dan Konflik (2)

Jembatan Bacem, Saksi Bisu Pembunuhan Massal.

- detikHot
Senin, 07 Okt 2013 09:50 WIB
Jembatan Bacem, Saksi Bisu Pembunuhan Massal.
Ilustrasi pada film Jembatan Bacem
Jakarta - Film Indonesia pertama yang diputar pada pekan budaya dan konflik, adalah film karya Yayan Wiludiharto berjudul Jembatan Bacem. Film ini menelusuri kisah pembunuhan massal di kawasan Solo, Jawa Tengah.

Seribu satu kisah pilu dari jembatan yang menjadi saksi bisu atas kekejaman pada tahun 1956 - 1966 ini menampilkan cerita dari para saksi mata, penganiaya dan korban pada peristiwa terkait.

Konon, Jembatan Bacem ini menjadi tempat terakhir para tawanan yang merupakan anggota PKI, dan gerakan sosial berbasis rakyat di Indonesia untuk menemui ajalnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah yang merebak, menggambarkan bahwa para korban penghilangan paksa ini, dibawa dan ditawan. Setiap malamnya para korban ini 'mengantri' untuk dipanggil namanya, dan kemudian tak pernah kembali untuk selamanya.

Selain merangkum wawancara dengan beberapa narasumber terkait, film ini diperkaya dengan ilustrasi gambar yang berbasisi pada cerita dari para narasumber.

Dipisahkan dari keluarga, disiksa hingga dihadapkan pada mulut jembatan, kemudian ditembak mati dan hanyut di Sungai Bengawan Solo. Namun apakah kasus pelanggaran HAM berat ini, sudah diketahui khalayak? Inilah suatu pesan lain dalam diselenggarakannya pekan budaya dan konflik di GoetheHaus, bertepatan dengan peristiwa G-30S.

Katrin Sohns, Kepala Program Budaya GoetheHaus selama persiapan program banyak mempelajari hal-hal seputar kejadian pada tahun 1965 dan berbagai dimensi internasionalnya.

"Saya terkejut, betapa sedikitnya pembahasan dan diskusi mengenai hal ini. Tapi saya kemudian mengetahui bahwa ada perdebatan seputar hal ini," ujar Katrin.

Ia juga menjelaskan bahwa baru pada dua tahun terakhir, hal ini mulai menjadi perhatian. Ini ditandai dengan publikasi buku, film dan majalah yang terkait peristiwa ini.

Film lain yang membahas peristiwa penghilangan paksa ini adalah 'Plantungan' karya Putu Oka Sukanta dan Fadillah Vamp Saleh, juga 'The Act of Killing', karya Joshua Oppenheimer.

***

Film yang juga diputar dalam program kegiatan ini adalah 'Puisi tak Terkuburkan' karya Garin Nugroho, 'The Khmer Rouge Killing Machine' karya Rithy Panh, dan 'Sang Penari' karya Ifa Isfansyah.

Kurator dari pemutaran film adalah Putu Oka Sukanta, yang juga seorang eks tahanan politik dan salah satu korban yang berhasil selamat dalam peristiwa berdarah itu.

Dalam sepekan penuh, GoetheHaus akan membahas soal konflik dan budaya Indonesia sekaligus melihat hal tersebut dalam bingkai dunia. "Sehingga kita akan terus dan terus kembali pada pertanyaan tentang bagaimana dunia seni merefleksikan kejadian-kejadian yang penuh kekerasan dan peran yang mereka mainkan untuk menyebar luaskan diskursus ini," kata Katrin.

Pendekatan seni, juga diharapkan mampu memperlebar cakupan diskursus ini. Tidak hanya untuk yang memiliki latar belakang sebagai aktivis, namun juga untuk bisa dekat dengan generasi muda.

"Kita memang menginginkan regenerasi, jadi untuk mereka yang belum tahu lebih baik datang. Dan kita bukan hanya mendalami soal konflik 1965, tapi konflik secara keseluruhan," kata Dimi Andari, Asisten Program Budaya GoetheHaus.



(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads