Menjadi penyanyi istana tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Ada aturan tertentu yang tak boleh dilanggar. Tapi, tergantung. Beda presiden, beda pula pakemnya.
Seperti yang dirasakan Rafika Duri, 53 tahun. Selama hampir 35 tahun menyanyi di istana, ibu tiga anak ini merasakan atmosfer berbeda tiap ganti kepemimpinan. Terutama pada zaman orde baru dan era reformasi.
"Kalau dulu (aturan) lebih ketat. Belum terbuka seperti sekarang. Kami enggak boleh interaktif dan sebisa mungkin suara jangan terlalu kencang supaya tidak mengganggu pembicaraan antara presiden dengan tamu negara. Menyanyi ya menyanyi saja," kata Rafika saat ditemui di The Plaza, Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (30/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pak Moer itu baik sekali. Saya tidak tahu dulu itu apakah boleh foto bersama tamu negara atau tidak. Tapi, selalu Pak Moer yang bantu kalau mau foto," ujarnya.
Suasana berbeda mulai terasa sejak era reformasi dimana masing-masing pemimpin negara punya karakteristik beragam. Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono misalnya.
Rafika merasa lebih fleksibel dan tidak 'kaku' jika tampil di hadapan pejabat dan tamu negara. Mungkin karena sang presiden juga sama-sama menyenangi musik.
"Sekarang jauh lebih variatif. Banyak penyanyi-penyanyi muda yang bisa tampil di istana. Pak SBY juga kan memang kita tahu beliau senang musik, suka menyanyi dan mencipta lagu," katanya.
Selain itu, ada satu kesan yang ditangkap Rafika terhadap sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jika ia lupa satu kalimat dalam syair pun, maka hal itu akan ketahuan.
"Pak SBY itu perhatian sekali. Misal beliau lagi makan, lalu dengar saya salah lirik, beliau pasti tahu dan langsung berhenti makan sejenak. Makanya saya enggak boleh salah karena pasti ketahuan," ujarnya.
Namun, ada satu persamaan dari tiap era kepemimpinan. Setiap penyanyi istana wajib memakai kebaya atau busana nasional. Pakem ini yang tidak pernah berubah sejak dulu.

(utw/utw)











































