Dalam diskusi Rabu (2/10/2013) malam itu, Martin menjadi pembicara bersama dengan koleganya sesama mantan anggota Lekra, Putu Oka Sukanta. Dua pembicara lainnya lagi adalah wartawan senior Bre Redana dan novelis dari generasi yang lebih muda Okky Madasari. Sebenarnya ada satu pembicara lagi yang sudah tercatat di buku acara, namun tidak muncul tanpa ada keterangan apapun dari panitia, yakni Goenawan Mohamad.
Dipandu moderator Melani Budianta, keempat pembicara disatukan dalam tema 'Sastra Indonesia Modern Membahas Konflik Politik'. Dan, bukan kebetulan jika 'konflik politik' yang mengemuka dalam diskusi itu merujuk pada peristiwa-peristiwa kekerasan yang muncul pasca gejolak G30S/1965. Martin dan Putu, juga Bre adalah para pelaku dan saksi sejarah masa itu. Sedangkan Okky mewakili generasi yang tumbuh di era Orde Baru, yang menghadapi bentuk-bentuk kekerasan lain, yang pada dasarnya berakar pada persoalan yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat aktivitasnya di Lekra, ia masuk penjara. "Ketika bebas, saya menghadapi penjara yang lebih besar, kesepian, karena tak seorang pun mau menerima dan berteman dengan saya," kenang mantan wartawan yang menulis novel 'Jamangilak Tak Pernah Menangis' dan kumpulan cerpen 'Mati Baik-baik Kawan' itu. Karya-karya sastra Martin merupakan rekaman memori atas tragedi politik yang terjadi tahun 1965 dan sesudahnya.
"Saya menyebutkan sastra kesaksian," katanya seraya mengungkapkan keheranannya, bagaimana kekerasan massif yang merupakan dampak dari G30S tak cukup banyak menggerakkan orang Indonesia untuk menghasilkan karya yang hebat di bidang film, musik, seni rupa dan sastra. Ia pun membandingkan dengan apa yang terjadi di Jerman, di mana luka kemanusiaan akibat kekejaman Nazi telah melahirkan karya-karya kreatif yang hebat.
"Saya tak bilang kita pemalas, tapi pasti ada yang salah di sini. Mungkin daya khayali kita memang kurang. Masak kita nggak pernah merenung?" ujar Martin terheran-heran.
Senada dengan Martin, Putu Oka Sukanta mengatakan bahwa baginya sastra adalah alat perlawanan. Meskipun begitu, Putu menekankan bahwa bukan berarti lantas karya-karya yang ia tulis melupakan soal estetika. Baginya, dua unsur itu harus menyatu. Sama halnya dengan Martin pula, Putu juga harus menjalani pemenjaraan akibat aktivitas politiknya. Keluar dari penjara, selain menulis cerpen dan novel, ia membuat sejumlah film dokumenter serta menjadi ahli akupuntur. Rupanya, ketika dipenjara, ia berkenalan dengan seorang dokter yang mengajarinya keahlian itu.
Malam itu, Putu mengajak peserta diskusi agar jangan melupakan sejarah. "Kalau boleh dibilang slogan atau apa, maka saya akan katakan, jangan lupa dan jangan mengulangi," ujarnya.
Pekan 'Budaya dan Konflik' berlangsung hingga 6 Oktober. Hari ini ada peluncuran dan diskusi buku 'Sulawesi Bersaksi' pukul 19.00 WIB bersama Walikota Palu, H Rusdy Mastura dan sejarawan Hilmar Farid. Buku ini berisi kesaksian 12 korban Tragedi Kemanusiaan 1965/66 dari berbagai pelosok Sulawesi. Setelah itu ada pertunjukan tari bertajuk 'Ruang.Waktu' oleh Nabila Rasul yang digelar Jumat-Sabtu pukul 20.00 WIB.
Sebagai penutup acara, Minggu, pukul 13.00 ada pemutaran film 'Plantungan', dokumentasi kekerasan yang menimpa perempuan korban gejolak politik 1965; pukul 14.00 diskusi 'Perempuan Seniman Menanggapi Konflik' bersama Andy Yentriyani, Dolorosa Sinaga dan Margareta Astaman; pukul 19.00 pemutaran film 'Sang Penari' karya Ifa Isfansyah yang diangkat dari novel terkenal 'Ronggeng Dukuh Paruk' karya Ahmad Tohari.
(mmu/mmu)











































