Rieke percaya rumah merupakan tempat berlindung, baik dari liarnya alam maupun kondisi sosial. Saat tujuh tahun lalu rumah ini berdiri. Bangunan rumahnya terdiri dari rumah induk, perpustakaan dan pendopo.
Ini dilengkapi dengan hamparan rumput beserta pepohonan dan tanaman. βBangunan ini dulunya taman,β ujar Rieke.
Namun ia pernah mengalami teror yang dilayangkan ke taman itu. Rieke mengakui bahwa tembok pembatas rumahnya cukup rendah, ini bahkan memungkinkan orang untuk melompat masuk ke dalam. Ia khawatir setiap harus meninggalkan rumah. Sementara tugas ke luar negeri atau ke luar kota bisa datang kapan saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

βSaya harus yakin, kalau saya pergi itu anak-anak bisa aman.β Akhirnya ia membangun sebuah rumah tambahan di pekarangannya, fungsi utamanya untuk menutup akses dari tembok samping.
Dengan berdirinya bangunan dua tingkat pada tahun 2012 ini, Rieke semakin memperkecil celah adanya orang yang berniat jahat untuk mengganggu keluarganya.
βSatu-satunya bangunan yang tingkat disini, hanya bangunan ini, supaya di sisi sana tertutup dengan tembok yang tinggi," kata Rieke. Meski tampak sedikit lebih modern, Rieke tak mau menghilangkan konsep yang ia usung sejak awal. Unsur kayu dan barang antik tak lepas dari bangunan baru ini.
Untuk ubin dan talang air memang berbeda. Di bangunan asli Rieke menggunakan ubin yang terkesan tua, sementara di bangunan baru ia menggunakan ubin yang lebih modern. Di bangunan asli Rieke juga tak mau ada talang air.
βSaya enggak mau ada talang air, karena kalau rumah tua enggak ada talang airnya. Jadi dilebihkan atapnya, lalu bawahnya dikasih batu, agar tidak ada cipratan dan ditambah krei bambu."
Menurutnya dengan konsep ini, setiap hujan datang Rieke bisa menikmati tetesan air hujan yang jatuh, sambil menyeruput kopi, mengobrol atau bahkan melamun.
Sementara itu, di bangunan baru, ia menggunakan talang air, seperti rumah biasa. Rumah baru itu difungsikan menjadi dapur dan tempat makan. Ia memerlukan dapur besar, karena kediamannya sering dijadikan tempat berkumpul baik oleh teman, kolega, hingga pengajian.
Rumah baru ini juga menyediakan kamar baru bagi si kembar. Sebenarnya Rieke dan Donny telah mempersiapkan kamar bagi anak kedua, namun diluar dugaan mereka memiliki anak kembar. Agar anak-anak tetap leluasa dan bisa ikut menampung pengasuhnya, kamar mereka dipindah ke bangunan baru itu.

Lantai dua dari bangunan ini dimanfaatkan untuk kamar bagi para pekerja di rumahnya, seperti tukang kebun, dan pembantu rumah tangga. Lantai ini juga dimanfaatkan oleh Rieke untuk menjadi gudang juga tempat mencuci pakaian.
Meski memiliki tampilan lebih modern, detail bangunan ini tak luput dari kesan antik. Ruang kecil dibawah tangga, ditutup oleh Rieke dengan kayu bekas jendela.
Pegangan tangga yang ia gunakan berbahan kayu ulin, penyangga tangganya sendiri menggunakan bantalan bekas rel kereta api. Rak-rak piring yang digunakan itu berasal dari lemari bekas tukang obat yang antik. Ini juga disertai dengan peralatan makan khas tempo dulu.
(utw/utw)











































