Ceritanya suatu hari Doni pernah makan disebuah warung yang berada di Subang, Jawa Barat. Disana ia melihat foto Bung Karno yang lumayan unik. Jiwa kolektornyapun kumat.
Awalnya si pemilik warung, keberatan untuk menyerahkan foto ini. Seribu rayuan Doni utarakan, akhirnya si pemilik warungpun luluh. Saat itu Doni berucap janji untuk tak akan pernah menjual foto itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya waktu itu di Tangerang sudah punya dua toko. Begitu saya salah jalan dengan bermain judi, akhirnya foto itu saya jual seharga Rp 6 juta," kata Doni kepada detikHOT. "Percaya enggak percaya, enggak sampai 15 hari, ada saja jalan mau hancur."
Nasib buruk pertama muncul dalam bentuk penipuan. Seseorang memesan 10 bingkai pada Doni yang satuannya seharga Rp 1,2 juta. Si pemesan memberikan uang muka Rp. 25 juta.
"Dengan segala macam cara, untuk modal semua saya gadaikan agar bisa memenuhi pesanan ini. Sampai motor juga saya gadaikan," kata Doni. Sayang ketika pesanan selesai dan diantar, si pemesan mangkir dari sisa pembayarannya.
Doni habis-habisan modal dan harta bendaa untuk membayar hutang sampai sempat menganggur sebelum akhirnya membuka kios di Saharjo tahun 2004.
***

Sembari membenahi diri, usaha sehari-harinya kembali ia rintis. Mulai mencari tempat cetak yang menurutnya berkualitas bagus dan murah di Bandung. Menemukan pabrik pembuat bingkai, semangat Doni mulai kembali.
Bersama dengan itu, mulai banyak wajah tokoh-tokoh penting yang datang ke kios mungilnya. Budayawan Sudjiwo Tedjo juga Permadi, pernah mampir kesini. Ada salah satu petingi kepolisian yang tak bisa disebutkan namanya, juga mampir kesini.
Petinggi polisi ini memberi apresiasi atas kerja keras dan ketekunan Doni. Ia menanyakan apa benar Doni pernah dimimpikan Bung Karno. Doni mengiyakan. Lalu pengunjung ini menyarankan Doni untuk sediakan segelas susu, sebatang rokok dan sebuah korek, jika ingin dagangannya laris.
"Saya enggak mau berdebat, saya iya-iya saja. Yang ngomong gini orang-orang turun mobil. Logika saya ya enggak nerima. Tapi saya pedagang, enggak mau debat."
Berjualan wajah Bung Karno, susah-susah gampang. Menurutnya kadang laku, kadang tidak. Ini juga menguji konsistensinya, belum beberapa ancaman dan surat kaleng yang ia terima selama ini. "Tapi sampai detik ini saya masih bisa makan dengan enam orang anak saya," ujarnya.
Selain itu, ia juga membahas lukisan wajah Bung Karno, menurut Doni tak pernah ada orang yang bisa melukis wajah Bung Karno yang mirip dengan aslinya. Bahkan untuk pelukis kaliber dunia seperti Basuki Abdullah.
"Yang pernah mirip itu, ada orang Bali, dia puasa dulu satu bulan penuh. Boleh percaya boleh enggak deh, kalau klenik. Bisa gila kalau dipikirin."
****
Dari mana wajah Bung Karno yang ada di poster-poster dagangan Doni berasal? Bayangkan, pada tahun 1973 ketika dia memulai akses internet belum ada, buku-buku penting yang memuat wajah Bung Karno juga belum banyak ada di khalayak umum.
Meski hidup tertatih sejak awal merintis dagangan poster, ia tak pernah berhenti menyorotkan matanya kepada Bung Karno. Buku dan koran yang memuat kisah atau berita tentang sosok idolanya pasti ia lahap.
Wajah Bung Karno yang dimuat di surat kabar pun, dengan telaten ia gunting-gunting dan simpan. "Beberapa gambar dari koleksi kliping saya itu, sudah saya naikkan menjadi poster," ujarnya.
Tapi tak hanya mengandalkan gambar dari surat kabar. Sejak dulu, ia sering menjelah ke daerah di pelosok Bengkulu, juga sekitar Jawa dan Sumatera Barat, demi mendapatkan foto sang idola.
"Saya cari foto ke daerah-daerah, kalau saya yakin ini belum beredar secara umum, saya berani cetak." Selain berani mencetaknya untuk dijadikan poster, foto-foto antik Bung Karno, yang ia yakini penting, ia serahkan kepada anak Bung Karno, yakni Megawati Soekarno Putri.
Pria berusia 54 tahun ini bercerita pada suatu ketika saat mengunjungi Bengkulu, ia menemukan foto Bung Karno. Karena yakin foto ini belum banyak diketahui orang, ketertarikannya menggelora. Namun, ia tak bermodalkan banyak uang untuk bisa memiliki foto itu.
Memutar otak. Akhirnya ia beranikan mengajak si empunya foto bertukar. Antara foto Bung Karno dengan poster Bung Karno dagangannya. "Saya coba tukar dengan poster saya, kan ini sudah lebih bagus untuk dipajang. Foto kan berukuran kecil," ujarnya.
Β
(utw/utw)










































