Tapi ini tak hanya soal dunia musik, gaya berpakaian atau cara bicara saja. Salah satu yang paling populer adalah ungkapan yang dilontarkan Kementrian Dalam Negeri Pemerintah Inggris, saat Perang Dunia II baru dimulai, 'Keep Calm And Carry On'.
Di masa itu banyak poster dengan ungkapan ini diproduksi untuk memperkuat moral warga Inggris selepas masa peperangan. Kala itu sekitar 2,5 juta poster ini diterbitkan, namun ini hanya didistribusikan secara terbatas dan tidak dipampang pada area publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini ungkapan itu jadi tren lagi, dan muncul dalam berbagai variannya. Mulai yang lucu hingga yang keras. Pelopornya adalah Stuart Manley, pemilik toko buku Barter Books Ltd di Inggris.
Pada tahun 2000 Manley menemukan koleksi poster lama dengan tulisan ungkapan itu di rak buku-buku tua. Tertarik dengan slogannya, Manley menggantung poster tua itu di dinding tokonya.
Β Setelah itu, hampir setiap mata yang memandangnya seakan ter
hipnotis dan tertarik untuk memiliki ini. Manley pun sigap mencium aroma komersil.
Akhirnya ia memproduksi kembali poster ini dan menjual salinannya hingga ke pasar internasional. Seperti apa yang dilansir dari harian The Sidney Morning Herald, Stuart mengatakan poster ini membawa pengaruh positif. "Poster ini juga lebih murah dari pil anti-depresi," ujarnya.
Banyak pihak yang menganggap bahwa poster dengan slogan tersebut tak hanya mampu menggambarkan suasana kritis di Inggris saat perang tapi juga memberi inspirasi pesan positif masa lalu yang sulit untuk kondisi kekinian.
***
Di Jakarta salah seorang yang ketularan demam poster 'Keep Calm And ....' ini adalah Afra Suci Ramadhan, 25 tahun, seorang aktifis sosial.
Di kamarnya, perempuan yang juga vokalis band indie Sunday Market District ini terpampang poster dengan grafis bendera Union Jack dengan tulisan 'Keep Calm And Carry On.
Afra merasa poster itu sangat menggambarkan prinsip dan kepribadiannya.
Kepada detikHOT Selasa (24/9/2013) dia mengatakan jargon Perang Dunia II mengena ke kepribadiannya dalam dua hal.
"Biat life must go on dan melambangkan kultur British, supremasi Inggris buat segala hal, termasuk budaya pop. Ini juga karena gue suka musik-musik dari Inggris."
Tapi ia sebenarnya Afra tidak memampang poster dengan bahan yang tebal, seperti umumnya. Grafis yang ia pajang itu sebenarnya adalah kertas kado. Dengan harga Rp 40 ribu ia memboyong kertas kado bercorak bendera Inggris dan slogan khas-nya itu dari toko buku Aksara.
Kertas kado yang serupa poster itu ia tempelkan di dinding kamar dengan solatip dan tidak diberikan bingkai tambahan. "Karena gue udah lama banget mau poster itu, tapi toko poster jarang yang jual," kata Afra.

Kini, banyak toko-toko interior rumah yang menjajakan poster dengan teman Keep Calm And Carry On, misalnya di Kare Store dan Up Scale Deco di Jakarta. Afra sendiri mengaku belum tertarik membeli pengganti kertas kado tersebut. "Mungkin nanti kalau sudah punya rumah sendiri."
Berkembangnya tren slogan asal Inggris itu, juga mengundang banyak 'plesetan' atau parodi. Misal 'Keep Calm and Move On', 'Keep Calm and Carry on my Wayward Son', dan lainnya.
Parodi ini sudah mulai ramai dilakukan seiring dengan popularitasnya pada tahun 2012 lalu. Selain menjadi poster, grafis font dan logo yang khas dari slogan Keep Calm and Carry On ini juga diaplikasikan ke beberapa benda lain seperti mug, casing ponsel, tas, piring, kaos, jam dinding, dan sebagainya.
(utw/utw)











































