Dari poster yang dipajang kita bisa tahu apa saja yang jadi minat dan ketertarikan si pemilik hunian. Ya, poster memang bisa dikata seni yang paling mudah dijangkau semua orang.
Apalagi beberapa tahun lalu ketika majalah dan tabloid masih suka menghadiahkan poster kepada para pembaca. Memang kualitasnya tak seberapa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi untuk penggemar artis yang wajahnya dipampang pada poster tersebut. Tentunya hal ini pantas dikoleksi, baik untuk di pajang atau sebatas menambah jumlah dokumentasi.
Di Jakarta ternyata banyak sentra-sentra penjualan poster dari berbagai kualitas. Bahkan beberapa diantaranya menjamin keorisinalan produknya. berikut ini laporan detikHOT seputar produksi, pemasaran kisah para kolektor poster.
***
Dimas Agung Sedayu, 29 tahun adalah seorang editor video. Tak heran dunia film dan musik sangat dekat dengan kesehariannya. Namun jauh sebelum mendalami karirnya sekarang, ia sudah terlebih dahulu mengkoleksi poster.
"Sejak masih SMP saya sudah telaten mengkoleksi poster," ujarnya kepada detikHOT, Selasa (24/9/2013).
Hingga kini ia memiliki sekitar 50 poster. Memang bukan jumlah yang fantastis untuk seorang pengkoleksi. Karena ia mengaku cukup selektif dalam memilih poster, selain tak mau gambar yang sudah pasaran, Dimas juga memperhatikan jenis kertas dari posternya.
"Saya memperhatikan dari segi kualitas kertas, kualitas cetak, sampai frame yang dipakai. Yang bagus biasanya kertasnya langsung menempel di frame, jadi dicetak diframenya."
Kalau standar poster yang grafisnya sudah ia sukai, namun kualitasnya rendah, ia memilih untuk tak membelinya. "Karena bisa merusak mood," tuturnya. Harga poster yang biasa ia beli, ada di kisaran Rp 200 hingga Rp 500 ribu.
Poster koleksinya, ada yang buatan lokal juga impor. Ia pun menjelaskan bahwa yang impor biasanya kualitasnya lebih baik. Ia biasa membeli poster di toko-toko yang menjual barang koleksi, seperti apa yang ada di bilangan Senayan Trade Centre (STC), atau toko buku.
Menurutnya poster dijual dalam dua opsi, ada yang sudah bersama frame, ada juga yang gulungan. Ia pribadi memilih yang sudah dipakaikan frame. "Kualitas framenya sudah pilihan, meskipun harga lebih mahal.Tapi kita tidak perlu repot untuk mencari tempat frame."
***
Pada awalnya Dimas ia tertarik untuk mengkoleksi poster karena mengidolakan seseorang. "Poster sebenarnya lukisan dalam bentuk media yang berbeda, poster lebih kearah kebanggaan kita terhadap hal yang kita sukai," kata Dimas.
Koleksi Dimas sendiri lebih didominasi poster film dan poster cover album dari sebuah kelompok musik. Dia menganggap semua poster itu ibarat sesuatu yang bisa mewakilinya.
Misalnya pada poster film, saat memandang poster film favoritnya seperti Clockwork Orange, ia akan langsung terbayang adegan-adegan dalam film itu.
Begitu juga dengan musik, dengan memampang kelompok musik Radiohead yang ia sukai, rasanya lagu-lagu kelompok musik itu akan langsung terbayang saat melihat posternya.

Dimas jujur saja mengatakan ketika melihat poster yang sesuai dengan seleranya, ia tak memperhatikan izin duplikasi dari poster tersebut.
"Jarang memperhatikan ya, karena sekarang juga sudah banyak poster palsu dengan label duplikasi asli. Jadi saya tetap lebih memikirkan aktualisasi diri pada poster dan memperhatikan kualitasnya."
***
Dimas yang mengaku cukup telaten akan koleksi posternya ini, menganggap debu sebagai musuh utama dari koleksi posternya. Jadi untuk merawat poster-posternya ia sering membersihkan debu-debu yang hinggap."Sering dikontrol debu aja, karena bisa merusak frame dan kualitas kertas dari posternya," ujarnya.
Ada beberapa koleksi poster yang sudah bosan dan tak lagi ingin ia pajang di dinding. Biasanya ia simpan ini atau diberikan secara cuma-cuma kepada orang yang ia yakini juga suka akan gambar di dalam poster itu.
"Supaya kalau kita mau lihat poster itu lagi, kita tahu harus kemana," ujarnya. Dan ia menjelaskan tidak pernah menjual poster-poster koleksinya.
Menurut Dimas popularitas poster kini memang menurun bila dibandingkan dengan era 90'an. Ini juga dipengaruhi dengan berkembangnya era digital.
"Mungkin orang sekarang ini lebih tertarik mengkoleksi gadget, lagipula merawat poster kan tidak mudah."
Sementars gambar-gambar digital juga lebih mudah diunduh dan bisa dijadikan wallpaper komputer, laptop juga ponsel cerdas. Tapi jauh dari kesan mengeluhkan era digital ini, Dimas justru bersyukur.
"Justru karena itu poster jadi lebih langka. Ini membuatnya jadi klasik dan semakin menarik untuk dikoleksi," kata Dimas. Di era digital ini, poster juga bisa dicari diinternet meskipun kita tidak bisa memegang kualitasnya secara langsung seperti dulu.
(utw/utw)











































