Lalu tiba-tiba "tuk...tuk...tuk..." dia bangkin melangkah. Hentakan sepatunya di tengah panggung tersebut mengagetkan penonton.
Ketika langkahnya kian kencang, ia mengeluarkan plastik yang berbentuk orang kecil dari balik sakunya. Diterbangkanlah plastik itu ke udara.
Lambat laun plastik-plastik tersebut kian banyak terbang. Lalu berputar di satu titik pusaran tengah panggung.
Selama dua jam, penonton yang hadir dalam pembukaan Bienal Sastra Salihara 2013 dibuat terkagum dengan pentas teater sirkus kontemporer asal Perancis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah belajar dari Jermone Thomas, Phia bersama kelompok teater sirkusnya kembali mencoba hal-hal yang berbeda. Seperti karya pementasan berjudul 'Elevator, Phantasmagoria for Lifting People and Loads' yang telah dipentaskan 92 kali di seluruh dunia.
"Sejumlah karya seni pentas lainnya kami buat dengan kreasi berbeda. Kali ini adalah soal plastik dan angin. Ada yang ingin kami sampaikan bahwa plastik bukan sekedar barang tak berguna dan ia membuat kalian 'wow' bukan? Ha..ha..ha," ujarnya.
Ia menuturkan plastik yang menari-nari di tengah panggung merupakan daya tarik tersendiri. Teater sirkus, kata dia, tak hanya soal atraksi binatang maupun betapa hebatnya pentas sang seniman sirkus melompat dari satu tali ke tali lainnya.
Namun menurutnya, sirkus kontemporer bisa didefinisikan dalam berbagai hal. Termasuk terhadap penggunaan obyek plastik.
'Compagnie Non Nova' di Bienal Sastra Salihara tahun ini mementaskan dua karya yakni 'Vortex' untuk remaja usia 15 tahun ke atas. Serta pentas bertajuk 'Afternoon of a Foehn' bagi anak-anak usia 4 tahun ke atas.
Keduanya tidak memiliki pertunjukkan yang berbeda. "Mereka sama-sama menggunakan plastik dan teknik pusaran angin di tengahnya," katanya.
Pihaknya menggunakan 24 kipas besar di sekeliling panggung kecil Teater Salihara. Empat kru di luar tokoh di atas panggung bertugas mengatur angin agar berjalan lancar.
"Plastik berbentuk orang yang ada kaki, tangan, dan wajah tersebut membuat Anda senang? Iya, itu adalah salah satu tujuan kami. Objek sederhana tapi sangat bermanfaat," ujarnya.
Dalam setiap adegan 'Vortex', kata dia, ada cerita tersendiri. Awalnya memang diawali dari sang tokoh yang menggunting-gunting plastik dan membentuk laiknya manusia kecil. Lalu ia menerbangkannya.
Selanjutnya, sang tokoh berkelahi dengan plastik dan angin. "Ia membencinya, tapi ia juga bisa melahirkannya. Muncullah plastik panjang berwarna merah menghantui hidupnya."
Ia menceritakan jika makna plastik baginya adalah sebuah keterikatan. Skenario dibuat dari ide cerita bahwa plastik bisa membuat keindahan, ia mampu membuat seseorang marah, mampu dijinakkan, hingga mengekang tubuh.
(utw/utw)











































