Banon Gautama yang juga lulusan Fakultas Kajian Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta mengatakan dirinya mulai tertarik pantomim sejak tahun 2005.
"Kenal pantomim pas kuliah. Di situ ada mata kuliah teater, lalu ada pantomim-nya. Tertarik saja," kata Banon di Taman Ismail Marzuki, Senin (23/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pantomim itu kan enggak pakai kata-kata. Saya memang tidak terlalu suka dan percaya kata-kata. Saya lebih percaya aksi," ujarnya.
Kesenangan lain dari pantomim, lanjut Banon, mampu membuat orang terhibur dalam waktu yang relatif singkat. Pantomim juga memiliki karakter universal.
"Pantomim itu menyenangkan. Lebih mudah bikin orang senang dan tertawa," katanya.
***
Hal senada diungkapkan Rhamanda Yudha Pratomo. Pria berusia 20 tahun ini menekuni pantomim karena dirinya suka berimajinasi. Dalam pantomim, hal terpenting adalah imajinasi.
Meski belum lama mengenal pantomim, Yudha, begitu ia disapa, aktif mengikuti latihan dan terlibat dalam beberapa pertunjukan. Baginya, jenis kesenian tanpa suara itu unik dan membawa manfaat.
"Seru karena seakan-akan imajinasi itu nyata. Manfaatnya banyak terutama untuk kecerdasan," ujar Yudha.
Manfaat lain dari pantomim dituturkan oleh Amar, anggota Komunitas Pantomim Indonesia yang lain. Menurut pria berusia 25 tahun ini, pantomim dapat menyehatkan jasmani serta rohani.
"Suka pantomim karena unik dan bisa menyehatkan badan jila dilakukan dengan benar. Inspirasinya juga luas bisa dari keseharian kita," kata Amar.
(utw/utw)











































