Beberapa bulan terakhir, mereka sibuk mengisi acara di stasiun televisi swasta. Baik sebagai narasumber dalam acara talkshow maupun menjadi batu figuran di acara reality show.
"Terakhir pas bulan puasa kami dikontrak sebulan sama Trans7. Pernah juga live di stasiun televisi lain," kata pendiri Komunitas Manusia Batu Taman Fatahillah, Idris di Jakarta, Selasa (17/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya-lah jadi kayak artis sampai masuk TV. Enggak masuk TV juga sudah mirip artis, banyak yang minta foto. Ya, memang kerjaan kami dipotret jadi batu. He...he...he...," ujarnya.
Disamping penghasilan yang lumayan besar, berkah lain dari masuk televisi adalah kebanjiran tawaran mengisi acara-acara off air seperti acara ulang tahun, pernikahan, atau event yang diselenggarakan sejumlah perusahaan swasta dan instansi pemerintah.
Pria berusia 35 tahun itu bahkan tak menolak jika ada yang menawari sebagai bintang iklan atau jadi figuran sinetron. Namun, ada satu syarat utama.
"Saya harus tetap pakai kostum pejuang kemerdekaan seperti ini. Kalau tidak, saya tidak mau. Dibayar berapapun enggak mau," kata Idris.
Dia punya alasan kenapa tidak mau mencopot kostum tersebut. Baginya, karakter pejuang kemerdekaan sudah melekat dalam keseharian. Menjadi dikenal seperti sekarang justru karena menjadi batu pejuang.
"Orang kenal saya kalau saya sudah dirias dan pakai kostum ini. Coba saya pakai baju biasa, nggak bakal ada yang kenal. Sudah seperti ciri khas-lah," ujarnya.
***
Berkah menjadi terkenal juga tak luput dialami Sugeng yang memerankan tokoh vampir. Pria berusia 31 tahun itu jadi kebanjiran job, baik yang dilakukan bersama-sama komunitas maupun diri pribadi.
Belum lama, dia diminta menjadi patung vampir di etalase sebuah pusat perbelanjaan. Durasi waktunya sekitar dua jam. Adapun honor yang diterima mampu menambah uang belanja sang istri.
"Kemarin ini jadi vampir di mal. Pernah juga jadi figuran vampir di acara televisi. Alhamdulillah ada saja rezeki," kata Sugeng.
Meskipun mirip dengan artis terkenal, menjadi manusia batu jauh lebih menyenangkan. Kalau artis tampil dengan karakter sungguhan, mereka tampil dengan make-up tebal dan kostum unik, sehingga ruang privasi lebih terjaga.
"Enakan begini. Orang tahunya saya vampir. Kalau saya lepas kostum, saya balik jadi orang biasa," ujarnya.
***
Cerita Daryanto lain lagi. Bapak empat anak pemeran batu pejuang petani ini benar-benar dianggap artis tiap pulang kampung. Maklum, semua orang tahu profesinya sebagai manusia batu dan beberapa kali tampil di televisi.
"Sudah lepas kostum juga tetangga di kampung banyak yang tahu kalau saya masuk TV. Katanya sudah jadi artis sekarang. Kalau kami masuk koran suka saya kliping juga buat kenang-kenangan," kata Daryanto.
Dia hanya bisa mensyukuri semua itu sebagai hasil kerja keras yang dinikmati dari hati. Pernah membuka usaha warung Tegal selama 18 tahun, sekarang Daryanto memilih setia pada profesi ini.
"Dasarnya saya suka seni. Jadi, sekarang saya menikmati. Menjalaninya senang-senang saja. Capek sama panas sudah biasa. Soal rezeki, alhamdulillah keranjang tidak pernah kosong. Berapa pun disyukuri," ujarnya.
(utw/utw)










































