Namun, ada kalanya kesulitan datang. Terutama soal cuaca. Jika sedang panas terik, tentu akan membuat tubuh lelah sekaligus kepanasan. Sebaliknya, bila hujan, mereka tak bisa berbuat apa-apa.
"Duka buat saya tidak ada. Adanya kendala. Kalau hujan yang paling repot. Kami nggak bisa tampil," kata pendiri Kombat, Idris, di Taman Fatahillah, Kota Tua, Selasa (17/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya datang ke sini (Taman Fatahillah) tiap hari, cek saja. Ternyata banjir, ya gimana kami bisa jadi batu kan? Lagipula siapa yang mau foto? He...he...he...," ujarnya.
Daryanto, anggota Kombat yang berperan sebagai pejuang petani, menyatakan hal yang sama. Kalau boleh meminta, ia memilih diberikan cuaca panas saja.
Alasannya, cuaca panas masih bisa ditaklukan. Misal, dengan menyeruput minuman dingin atau sejenak beristirahat di bawah pepohonan rindang.
"Mendingan panas daripada hujan. Kalau panas paling kita kepanasan, tapi kalau hujan benar-benar nggak bisa cari uang," kata Daryanto.
Nurma, 23 tahun, salah satu pengunjung Taman Fatahillah mengaku kagum dengan aksi para manusia batu yang tahan berdiri di tengah terik matahari. Dia bahkan sempat mengira mereka batu sungguhan.
"Keren saja. Unik banget. Mereka rela susah-susah dandan pakai kostum begitu. Kan panas juga ya," ujarnya.
Mahasiswi jurusan akuntasi di sebuah universitas swasta di Yogyakarta ini baru pertama kali mengunjungi Taman Fatahillah dan berharap Kombat bisa hadir di daerah.
(utw/utw)











































