Mereka kebanyakan datang dari latar belakang pedagang dan pengangguran. Dari satu orang, lama-lama berkembang jadi sepuluh orang.
Idris akhirnya mendirikan Komunitas Manusia Batu Taman Fatahillah (Kombat) pada 1 April 2013 dengan jumlah yang dibatasi hanya 10 orang saja. Dia beralasan, pembatasan ini ditujukan untuk menjaga eksklusivitas karakter dan mempertahankan keunikan di kawasan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bapak satu anak ini mengatakan, ada pengecualian jika salah satu anggotanya absen atau mengundurkan diri, maka orang lain bisa menggantikan. Yang jelas, anggota harus tetap dibatasi 10 orang.
Di antara 10 orang itu masing-masing memerankan tokoh pejuang kemerdekaan, pejuang petani, polisi, vampir, noni Belanda, opsir Belanda, serdadu perang, dan lain-lain.
Tak ada pungutan biaya apapun dalam komunitas tersebut. Penghasilan mereka pun tidak sama karena memiliki keranjang sendiri di depan tempat berdiri.
"Kalau pendapatan ya beda-beda. Rezeki masing-masing-lah. Tapi, kami nggak pernah mematok tarif tertentu. Seikhlasnya pengunjung saja," ujarnya.
Kombat sendiri sudah mengantongi ijin untuk tampil di sekitar kawasan tersebut oleh pihak Museum Fatahillah. Kehadiran mereka dianggap mampu menjadi daya tarik pengunjung untuk datang ke sini. "Diizinkan saja sudah merupakan penghargaan buat saya pribadi," kata Idris.
Saat ini, pria berusia 35 tahun itu tak memungkiri ada komunitas serupa yang hadir di kawasan Monumen Nasional dan Taman Menteng. Namun, ia justru merespon positif.
Menurutnya, semakin banyak yang melestarikan kreativitas ini, berarti semakin masyarakat memberikan apresiasi terhadap profesi mereka.
"Nggak apa-apa, silahkan saja. Mereka beda sendiri, bukan dari komunitas kami. Yang penting wilayah tampilnya beda. Tapi, yang di Fatahillah ini yang pertama," ujarnya.
Ke depan, Idris punya mimpi untuk menyebarkan Kombat ke daerah lain di Indonesia agar seni membatu ini lebih berkembang. Selain itu, dia juga ingin membuat festival manusia patung suatu saat nanti.
"Ya, festival manusia patung sudah ada di Belanda, sedangkan di Indonesia belum. Dalam waktu dekat ini saya ingin menghadirkan komunitas serupa di Taman Mini Indonesia Indah. Tapi, belum ada omongan dengan pihak mereka," katanya.
Keunikan dan orisinalitas Kombat menggulirkan kesuksesan hingga layar kaca. Beberapa kali mereka tampil dalam berbagai acara di stasiun televisi swasta. Termasuk Trans7 yang mengontrak mereka selama bulan puasa dalam salah satu program Ramadan.
Dari situ, hampir setiap akhir pekan, ada saja yang meminta mereka tampil mengisi acara-acara yang kadang dihadiri pejabat. Dan, sudah barang tentu, mereka merasa bangga.
(utw/utw)











































