Menjadi manusia batu, pada akhirnya bukan sekadar kegiatan mencari nafkah. Bagi anggota Komunitas Manusia Batu Taman Fatahillah (Kombat) banyak cerita dan pengalaman, suka dan duka yang dijalani tanpa ingin berpaling dari profesi ini.
Waktu pertama kali tampil sebagai patung 'Opsir Belanda' setahun lalu, Rizal Hidayat sempat disangka orang gila. Bagaimana tidak, dengan kostum serba putih dan wajah yang dipoles warna serupa, tentu banyak orang heran.
"Berdiri sendirian begitu awalnya grogi, sempat dibilang orang gila, orang aneh-lah," kata Rizal saat ditemui detikHot di Taman Fatahillah, Kota Tua, Selasa (17/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak jarang banyak pengunjung yang kaget bahwa yang mereka anggap patung itu ternyata hidup. Sebagian besar anak-anak menjerit, bahkan ada yang menangis saat Rizal tersenyum.
"Anak-anak biasanya suka iseng colek-colek. Ini patung beneran apa bukan. Kadang mereka godain, saya godain balik mereka kabur," ujar Rizal sembari tertawa.
Awalnya, pria berusia 32 tahun ini bekerja sebagai pedagang buah di Kota Bogor, Jawa Barat. Namun, lantaran lapak digusur, ia memutuskan mencari pekerjaan lain.
"Datang ke sini lihat Idris (pendiri Kombat) lagi berdiri sendirian jadi patung pejuang. Saya menawarkan diri menemani," ujarnya.
Dia memilih karakter opsir Belanda karena ingin mencari pembeda dari karakter yang sudah ada, yakni pejuang kemerdekaan. Apalagi kawasan Kota Tua sangat kental dengan nuansa sejarah masa kolonial.
***
Cerita senada diungkapkan Sofia yang berperan sebagai patung 'Noni Belanda'. Perasaan malu dan grogi bercampur jadi satu. Ya, karena dengan kostum gaun serba putih ditambah riasan wajah penuh bedak dan gincu merah tentu menarik perhatian banyak orang.
"Namanya juga pakai kostum sama make up tebal begini, pasti malu banget. Dari pertama sampai sekarang rasa malu itu enggak hilang-hilang," kata Sofia.
Tak hanya itu, ibu tiga anak ini sudah terbiasa menghadapi ledekan atau godaan yang datang baik dari pengunjung maupun pedagang iseng. Bahkan, pernah ia hampir dipeluk dan dicium.
"Suka banyak yang godain 'peluk ya mbak', 'cium ya'. Saya tahu mereka hanya menggoda biar saya ngomong atau bergerak, enggak pernah beneran dilecehkan. Ya, tapi saya sih tetap diam saja, enggak marah atau tersinggung. Profesional jadi batu," ujarnya.
***
Romi yang tampil sebagai patung 'Army Toys' ikut mengalami perasaan serupa. Dengan kostum dan make up serba hijau, tak banyak yang menyangka bahwa ia adalah manusia biasa.
"Suka dijahilin sama anak-anak. Pegang-pegang. Malah pernah ada cewek yang tiba-tiba peluk dari belakang. Namanya jadi patung, ya diam saja. Pas dia tahu kalau saya orang, baru kaget," kata Romi.
Meski rasa malu itu ada, namun pria berusia 32 tahun ini tetap bertahan pada profesinya. Daripada menganggur tak ada kerjaan, lebih baik menghibur orang dengan jadi batu seharian.
(utw/utw)











































