Jepang merupakan salah satu negara yang mementingkan ruang seni bagi warganya. Mayoritas dari mereka bisa menggunakannya secara gratis dan bebas. Namun, bagaimana dengan seni ruang publik yang ada di Jakarta?
Oleh karena itu, detikHOT mengupas ragam ruang seni yang ada di Jepang maupun Jakarta. Serta beberapa komunitas yang secara konsisten menggunakan ruang publik tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ikaputra terkejut ketika mendatangi Yokohama Ferry Terminal dan Port of Kobe Eartquake Memorial Park ketika dirinya masih ada di Jepang beberapa waktu lalu. Dari segi arsitektur kedua bangunan dan fungsi sebagai ruang publik untuk seni sangat memukaunya.
"Saya kira pelabuhan akan kumuh tapi nyatanya tidak. Di atasnya, ia buat lahan yang terbuat dari kayu untuk aktivitas warga," katanya kepada detikHOT setelah diskusi Capturing Japan: Urban Culture and Architecture di Japan Foundation Jalan Sudirman, Jumat (13/9/2013) lalu.
Bahkan saking bagusnya desain pelabuhan untuk ruang publik tersebut, kata Ikaputra, ia sampai terpeleset. Pasalnya desainnya memang sengaja berbentuk seperti perbukitan.
Menurutnya, Yokohama Ferry Terminal dirancang foreign office architect yang mengusung tema undulating scape dari susunan ribuan kayu yang mengingatkan akan arti pentingnya dermaga. Sedangkan Taman Peringatan Kobe dibuat dengan menempatkan reruntuhan asli ketika gempa bumi Kobe terjadi 1995 lalu.
"Keduanya menjadi atraksi terbuka bagi publik. Ini yang disebut public art yang ada di Jepang," ujarnya. Tak hanya itu saja, di setiap sudut kota Jepang memiliki ruang publik untuk seni.
"Mereka betul-betul memperhatikan kota dan identitasnya. Di sana pemerintah dan seniman bekerja menjadi satu," katanya.
Berbeda halnya jika dibandingkan dengan seni ruang publik yang ada di Jakarta. Pemerintah terasa ogah-ogahan membuatnya. Serta senimannya terasa butuh usaha lebih untuk menunjukkan ekspresinya.
Lulusan jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengatakan jika di Jakarta yang baru maksimal digunakan adalah taman kota. Di sana, banyak komunitas yang berlatih kesenian maupun digunakan sebagai ruang berkumpul.
Jika dilihat dari sejarah seni rupa Amerika, seni ruang publik atau disebut public art dikenal sejak era 1960an. Dipelopori oleh Claes Oldenburg, Robert Morris, Isamu Noguchi, Roy Lichtenstein, dan lain-lain.
Bentuknya bisa berupa apa saja. Di antaranya mural, karya monumental, patung, ruang pameran bersifat permanen maupun temporer yang bisa digunakan siapa saja. Tapi bisa juga seperti seni pertunjukan, seni peristiwa yang sedang ngetren sekarang ini.
Sedangkan menurut lulusan perancangan kota University of New South Wales, Sydney, Australia, Dyah Titisari Widyastuti, sebuah ruang publik untuk seni itu seharusnya bisa diakses oleh siapa pun, tanpa ada biaya, serta batasan jam. "Di Jepang begitu, semua orang bisa menikmatinya tanpa takut tak punya uang," katanya.
Bahkan sebuah stasiun di Osaka terdapat air mancur di atasnya. Setiap malamnya selalu ada pertunjukan air mancur berwarna warni. Penduduk Jepang yang tadinya tak ingin ke stasiun, jadi ingin menonton. "Itulah yang disebut dengan seni ruang publik," kata Dyah.
(utw/utw)











































