"Kalau aku paling suka foto makanan. Tapi belum sampai bikin review kecil-kecilan. Mau cepatnya saja, jadi paling hanya kasih info lokasi," ujar perempuan yang bekerja sebagai konsultan public relation ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atau tak jarang dia juga menggunakan ponselnya untuk mengabarkan situasi jalan yang baru dilaluinya. Misalnya kala ada kemacetan parah. "Suka aku foto ini untuk info, biasanya sekalian tag lokasi terus di kirim ke jejaring sosial," kata Nuraini.
Dia juga pernah menyaksikan kecelakaan mobil di jalan, dia langsung
"Pernah nemuin kecelakaan mobil di jalan, terus difoto dan dikirin ke jejaring sosial." Ini ia lakukan, agar teman-temannya yang melihat info tersebut bisa menghindari ruas jalan yang tengah ia lalui.
Meski rajin jeprat-jepret dengan ponsel cerdasnya, bukan berarti Nuraini juga rajin berbagi foto diri. "Tidak suka, karena tak ada informasi penting yang bisa dibagi. Di antara teman-teman cuma 30 persen yang punya kesadaran yang sama dengan saya."
***
Nah, menyimak kisah Nuraini, bisa disimpulkan menjadi seorang warga pewarta foto sebenarnya tak sulit-sulit amat.
Namun memang kemampuan untuk menangkap momen dan bukan sekadar menunggu kejadian besar hadir di depan mata bukan hal sederhana dan harus diasah.
Salah satu tempat yang menyediakan layanan untuk belajar mengasah kemampuan ini adalah di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA).
Galeri ini setiap tahunnya membuka pendaftaran untuk sekitar 16 siswa kelas dasar dan 16 siswa kelas jurnalistik, untuk mengikuti workshop fotografi jurnalistik.
"Jumlah ini melalui seleksi yang ketat," ujar Mosista Pambudi, Kepala Sekoah di Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pesertanya datang dari beragam kalangan latar belakang dan usia.
Peserta kelas dasar dari workshop yang berjangka satu tahun ini, akan dibekali juga soal kamera analog dan bagaimana praktek di kamar gelap. Menurut Mosista, dengan belajar menggunakan kamera dari analog, para pelajar ini bisa memiliki rasa yang berbeda.
"Selama masih ada analog, film, kertas, chemical-nya, kita akan terus pakai. Karena untuk mengasah kepekaan. Enggak sembarangan jepret," ujarnya.
Jadi meski menggunakan kamera SLR Digital misalnya, kita menekan tombol shutter, dengan penuh pertimbangan. Coba merasakan apa yang akan masuk pada frame foto nantinya.
Merebaknya ponsel berkamera, juga bukan suatu hal yang disayangkan oleh Mosista. Menurutnya keberadaan ponsel berkamera itu mampu membuat kita mengasah kemampuan mengambil gambar. "Ini bisa melatih the art of seeing kita, daya tangkap, daya kepekaan kita terhadap suatu hal."
"Alat lo boleh apa saja, tapi rasa seni-nya itu harus dibangun. Alat akan terus berkembang. Rasa harus ikut berkembang, tapi mulainya dari mana? Lo harus tahu akar lo," jelasnya.
(utw/utw)











































