Relief Cantik karya Seniman Muda Indonesia di Kemayoran Terancam Punah

Seabad Maestro Lukis S.Sudjojono (7)

Relief Cantik karya Seniman Muda Indonesia di Kemayoran Terancam Punah

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 11 Sep 2013 17:51 WIB
Relief Cantik karya Seniman Muda Indonesia di Kemayoran Terancam Punah
Jakarta - Ketika proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno menjabat sebagai presiden, ia memiliki perhatian khusus terhadap dunia seni rupa Indonesia.

Atas titahnya, tiga relief dibangun di Bandar Udara Kemayoran pada 1957. Sayangnya, kini kondisinya masih memprihatinkan dan terancam punah.

"Duh, kondisinya benar-benar tidak karuan, setelah Bapak meninggal saya sempat ke sana. Tahun ini saat memperingati seabad Pak Djon, tim kami juga datang lagi untuk merisetnya," kata istri Sudjojono, Rose Pandanwangi kepada detikHOT di Cirendeu, Ciputat, Selasa (10/9/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Relief tersebut terletak di ex Bandar Udara Kemayoran, satu lahan dengan kantor Pusat Pengelola Komplek Kemayoran (PPKK). Berseberangan pula dengan mall Mega Glodok Kemayoran (MGK). Ia berdiri di dalam gedung tua yang masih tahap perbaikan.

Tadinya gedung empat lantai tersebut sebagai tempat istirahat bagi tamu-tamu VIP yang datang dari luar negeri. Reliefnya sendiri ada di lantai pertama dan kedua gedung. Ia juga merupakan relief beton pertama yang dibuat di Indonesia.

Dirancang oleh Seniman Muda Indonesia (SMI) Yogyakarta dan terdapat tiga karya. Di antaranya berjudul 'Manusia Indonesia' oleh Sudjojono di lantai dua, 'Flora dan Fauna Indonesia' karya Harijadi di lantai yang sama, dan 'Sangkuriang' karya perupa Surono yang terletak di lantai satu.

Relief tersebut dipahat langsung di lokasi tersebut. Karya Sudjojono yang memiliki panjang 10 meter menceritakan mengenai rakyat yang sedang bekerja. Sedangkan 'Flora dan Fauna' mengenai ragam hewan darat maupun air yang di Indonesia. Serta terakhir dengan panjang 13 meter dan 3 meter mengangkat kisah legendaris Sangkuriang.

Ketika detikHOT menyambanginya Senin lalu (9/9/2013), seorang staf Humas PPKK mengatakan kini gedung tua tersebut sedang dalam tahap perbaikan.

Di sana, memang tampak beberapa pekerja sedang mengecat temboknya dengan warna merah dan putih seperti aslinya. Serta rerumputan yang tadinya menghiasi gedung sudah tak terlihat lagi.

Kondisi ini berbeda halnya ketika reporter detik.com pertama kali mendatanginya pada Juli lalu. Saat itu, rerumputan, ilalang, dan sampah masih tak terurus. Kini meski sedang tahap perbaikan gedung, namun kondisi relief masih terancam punah.

Pasalnya, lahan tersebut telah dibeli oleh pihak swasta, rencananya untuk dibangun lahan industri dan perhotelan. Namun, ketiga relief ini masih menjadi masalah lantaran tak masuk ke dalam cagar budaya.

Pihak pengelola Kemayoran juga sedang mengajukan agar benda bersejarah ini dijadikan cagar budaya dan dapat dipindah tempatkan ke lokasi yang lebih layak.

Rose sendiri masih ingat pertama mengunjungi lokasi tersebut. "Waktu bikin, saya suka ke situ. Saya ingat sekali Bung Karno bilang ke para seniman akan kedatangan Presiden Rusia, tapi gedung itu belum dibuka. Katanya, buatlah karya dengan biasanya dan memakai baju yang kalian biasa pakai," kenangnya.

Para seniman muda pun memakai pakaian pada biasanya. Decak kagum dan pujian terhadap relief cantik yang belum jadi pun terlontar oleh Presiden Rusia tersebut. Kondisinya yang memprihatinkan sekarang ini, kata Rose, turut membuat hatinya sedih.

"Sedih sekali, pemerintah belum 100 persen awareness sama karya seniman anak negerinya. Padahal itu bikinnya susah sekali, langsung dipahat di beton itu," ujar Rose.

Menurut Rose, karya suaminya tersebut tak hanya ada relief cantik di ex Bandar Udara Kemayoran saja. Tapi juga ada dua patung yang terdapat di Cikalong Jawa Barat. Di antaranya patung penakluk alam dan perempuan membawa kendi air. Serta juga terdapat karya relief di Waduk Jatiluhur, Timmo Jawa Tengah, dan lain-lain.

"Relief dan patung itu biasanya pesanan. Sama halnya ketika buat patung untuk Asean Games. Memang apa saja dilakukan Bapak untuk nafkahi keluarganya melalui jalur dunia seni rupa," ujarnya.

Sayangnya, menurut Rose ada dua proyek pesanan yang sudah dibuatkan sketsanya tapi tak jadi. Di antaranya, ketika rencana pembuatan monumen patung Selamat Datang dan proyek pabrik Pusri di Palembang.

Ia menceritakan di patung Selamat Datang, awalnya yang disuruh membuat sketsanya adalah Djon, bukan Henk Ngantung seperti yang ada dalam sejarahnya. "Namun entah kenapa tidak jadi, sama seperti proyek Puspri. Padahal di sketsa ada rancangan gambarnya," ujar Rose. Relief ini pun juga merupakan salah satu karya masterpiece perupa Djon sepanjang hayat hidupnya.





(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads