Sang 'Jiwa Ketok' Yang Tak Pernah Membagus-baguskan Lukisannya

Seabad Maestro Pelukis S.Sudjojono (1)

Sang 'Jiwa Ketok' Yang Tak Pernah Membagus-baguskan Lukisannya

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 11 Sep 2013 10:11 WIB
Sang Jiwa Ketok Yang Tak Pernah Membagus-baguskan Lukisannya
Salah satu bagian lukisan 'Pertempuran Sultan Agung dan JP Coen.'
Jakarta -

Jika Anda berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua, singgahlah ke dalamnya. Lihatlah lukisan besar yang terpampang sebesar 3 x 10 meter berjudul 'Pertempuran Sultan Agung dan JP Coen.'

Detil obyeknya, goresan rupa 'Sultan Agung' disertai gambar 'Pertemuan Kjai Rangga dan J.P.Coen' akan membuat kagum siapa pun yang melihatnya.

Itulah salah satu karya masterpiece dari maestro pelukis S.Sudjojono. Pada masanya, karyanya dikatakan setara dengan Van Gogh. Sayangnya, kini tak banyak yang mengetahuinya, tak seperti nama pelukis Basuki Abdullah maupun Affandi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, Sudjojono adalah yang pertama kali memperkenalkan kata 'sanggar' dan 'pelukis'. Siapakah ia? Dalam rangka seabad karir Sudjojono, detikHOT khusus mengupas baik segi kehidupan pribadi, pemikiran politik seni rupa, serta beragam karya-karyanya.

***

Namanya Sindudarsono Sudjojono. Panggilannya Pak Djon. Dilahirkan di Kisaran, 14 Desember 1913 dari pasangan Sindudarmo dan Maridjem. Djon menghabiskan masa kecilnya di area perkebunan Sumatera tempat ayahnya bekerja.

Suatu hari, ia bertemu dengan Marsudi Judokusumo dan dilatih menggambar. Djon menamatkan sekolah dasarnya di Batavia, lalu pindah ke Bandung dan bersekolah di SMA Taman Siswa, Yogyakarta.

Di kota Gudeg itulah, ia kembali belajar melukis kepada RM Pirngadie selama beberapa bulan. Serta belajar kepada pelukis Jepang, Chioji Yazaki.

Sebelum menjadi pelukis, ia pernah menjadi guru di Taman Siswa. Karir sebagai guru menanjak ketika pada 1931, Djon disuruh membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi oleh Ki Hajar Dewantara.

Sebagai pelukis, namanya mulai dikenal pada 1937, kala itu ia bersama pelukis Eropa mengikuti pameran bersama di Bataviasche Kunstkring, Jakarta. Di tahun yang sama ia pula menjadi pendiri dari Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi).

"Kami tak hendak mendewa-dewakan dia," ujar kritikus seni Trisno Sumardjo seperti dikutip dalam buku Sang Ahli Gambar. Trisno pula yang menjulukinya sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.

***



Menurut istri Djon, Rose Pandanwangi, kiprah melukis suaminya diketahui sebelum mereka bertemu di era 1950-an. "Sehari-hari Pak Djon selalu membawa sketsa, ke mana pun dia berada. Acara kenegaraan, sampai ketika menungguinya saya selesai menyanyi di RRI (Radio Republik Indonesia)," kata Rose kepada detikHOT Selasa (10/9/2013).

Tiap kali ada kesempatan dan ide, kata Rose, ia selalu membuat sketsa. Sketsanya bertebaran di mana-mana, baik dalam sanggar maupun di kawan-kawan baiknya.

"Ada ucapan dari beberapa ahli lukisan, yang bilang makin lama kalau dilihat lukisan Pak Djon itu makin bagus. Yah, itu saking terlihat detilnya gambar yang ada," ujar Rose.

Wanita yang memiliki enam putri tersebut juga mengatakan jika Djon adalah seorang pemikir. Segala sesuatu yang dilihat dan dirasanya selalu dituangkan dalam buku sketsa. Lukisannya pun selalu memiliki segi humoris dan peduli dengan hal-hal detil.

"Itu pula yang disebutkan bahwa dia adalah seniman jiwa ketok. Melukis apa adanya yang ada, tidak dicantik atau dibagus-baguskan," katanya.

Dalam buku Sang Ahli Gambar karya Aminudin TH Siregar, disebutkan di dekade 1930 hingga 1940an, Djon mempopulerkan istilah seniman. Serta ia juga yang kali pertama menggunakan istilah sanggar dan pelukis.

Jika ia ditanya mengenai apakah seni itu? Djon sendiri akan menjawabnya dalam kalimat pendek yang kini menjadi kredo 'jiwa ketok'. "Kesenian itu jiwa ketok. Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian itu tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Jadi kesenian adalah jiwa," katanya.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads