"Kita menantang tiga kurator muda dari Indonesia untuk menerjemahkan atau membaca ulang tentang tema yang diberikan oleh festival," ujar Mahardika Yudha, Direktur OK Video Festival 2013.
Tak mudah tentunya, tugas dari para kurator ini, salah satunya adalah untuk menseleksi sekitar 303 karya yang masuk dari berbagai negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***

Ini bersinggungan dengan banyak hal, seperti ekonomi, hukum dan nilai-nilai yang jauh mengakar di masyarakat seperti agama.
Dalam proses membaca karya-karya yang masuk, para kurator mencemplungkan karya tersebut ke dalam lima kategori besar. "Ini penting bagi kami sebagai payung-payung dalam pembacaan kami," kata Irma Chantily, 28 tahun.
Kategori tersebut antara lain, melihat karya sebagai muslihat itu sendiri. "Karya yang semacam ini biasanya banyak bermain dengan eksplorasi medium." kata Irma.
Kedua adalah karya sebagai pertanyaan tentang realitas. Yang ditujukan untuk mempertanyakan terciptanya kesadaran terhadap subjektivitas dibalik sebuah karya.
Ketiga adalah melihat karya dan aktivitas utak-atik tekhnologi, dimana fungsi peralatan tekhnologiyang dimodifikasi atau diubah hingga memiliki nilai juga fungsi baru.
Kategori keempat adalah komentar terhadap institusi dan konvensi seni. "Rupanya cukup banyak yang menggunakan karyanya untuk mengkritik dirinya sendiri, mengenai konvensi seni rupa, apa itu seni."
Yang terakhir adalah melihat karya sebagai refleksi muslihat konsumen. Kategori ini melihat bagaimana teknologi media telah berkontribusi dalam membentuk budaya masyarakat dan mengubah batasan-batasan seni itu sendiri.
Sehingga terjadi peleburan di sana sini antara apa yang dianggap seni, teknologi dan budaya sehari-hari. Menurut Irma, penempatan karya-karya dengan kategori-kategori tersebut diletakkan saling bercampur, dalam sebuah rumpun besar festival ini.
***
Bagi Irma yang punya latar berlakang dunia fotografi ini, kali ini adalah pengalaman pertamanya untuk menjadi kurator di acara ini.
"Ketika jadi kurator untuk OK video yang multimedia, moving images, instalasi, performances, tentu tingkat kesulitannya berbeda. Karena karakteristiknya berbeda, ada penyesuaian yang harus dilakukan."
Bagi Irma, meski kesulitannya banyak, pelajaran penting yang ia bisa petik pun berlimpah.
Sementara bagi Rizki Lazuardi, OK Video tahun ini menjadi pengalamannya yang kedua untuk menjadi kurator. Kemudian ia menjelaskan perbedaan OK Video tahun ini dengan dua tahun sebelumnya.
"Struktur programnya sudah beda. Kalau sebelumnya, ada banyak tema besar lalu kita pecah jadi beberapa pendekatan. Sedangkan tahun ini, hanya ada satu tema besar," kata Rizki.
Irma bercerita, yang menjadi filter dalam pemilihan karya adalah pemahaman dari tiap-tiap kurator dalam memahami apa itu muslihat. Juga ditambah dari pengalaman dari masing-masing kurator dengan latar belakangnya yang berbeda.
Kembali kepada tema yang diangkat tahun ini, yaitu muslihat. Ini sangat terkait dengan interpretasi subjek dalam menggunakan teknologi yang tersebar dengan luas di dalam masyarakat.
Rizki menjelaskan bahwa keterkaitan antara seni dan teknologi itu memang sangat dekat. "Penciptaan visual itu dari dulu, selalu terkait dengan tekhnologi, baik tekhnologi organik, mekanik, digital."
Maka, bila pada tahun-tahun sebelumnya OK Video cukup bergaung dalam aksi memberi counter terhadap kultur urban di masyarakat. Tahun ini mereka coba menyajikan hal yang berbeda. "Lebih untuk merayakan kemajuan tekhnologi. Perubahan pola produksi - distribusi - konsumsi," kata Irma.
Ia juga memberi kiat bagi para pengunjung yang ingin sungguh-sungguh menikmati dan memahami karya yang disajikan disini. "Jangan hanya nonton saat pembukaan. Harus datang setelah pembukaan, ketika sepi, nikmati karyanya satu per satu, baca katalog." Karena disini terdapat banyak karya yang menarik dan membutuhkan ketenangan juga waktu yang panjang untuk menikmatinya.
(utw/utw)











































