Ya, OK Video adalah festival video bertaraf internasional pertama yang diselenggarakan di Indonesia secara rutin. Digelar setiap dua tahun sekali oleh organisasi Ruang Rupa.
Festival pameran karya seni video instalasi ini mulai dibuka pada Rabu (4/9/2013) lalu. Pamerannya sendiri akan berlangsung pada 5 - 15 September 2013 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Apa saja yang menarik dari penyelenggaraan festival ini? Berikut rangkaian laporan detikHOT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiap tahun tentu ada yang berbeda dari konsep dan jumlah video yang ditayangkan di OK Video Festival. Tahun ini ada 91 karya video yang akan ditayangkan.
Awalnya Ruang Rupa sendiri menerima 303 video, 29 di antaranya diterima dari Open submission.
Open submission adalah pendaftaran peserta dari dalam dan luar negeri. Penyelenggara festival mengatakan adalah sekitar 51 negara yang mendaftarkan pesertanya.
Di antaranya berasal dari Amerika Serikat, Argentina, Australia, Austria, Belanda, Bolivia, Brazil, Polandia, Lithuania, dan lainnya.
Tradisi menggaet peserta dari luar negeri dan menjalin jaringan dengan dunia internasional, menurut Mahardika -- Direktur Festival OK Video 2013 -- sudah merupakan tradisi yang berjalan sejak tahun pertama Ruang Rupa bergerak.
"Saat pertama dibuat pun, kita sudah melibatkan sekitar 20 negara. Sekarang jaringan ini semakin meluas," kata Mahardhika kepada detikHOT pada Selasa(3/9/2013)
Sejak awal sejumlah peserta dari negara maju sudah ikut hadir. Baru mulai tahun 2008, peserta dari negara lain seperti Lithuania mulai berpartisipasi.
***
Ada yang unik, penyelenggaraan OK Video tahun ini akan bertema 'Muslihat'. Ini penjelasan Mahardhika tentang pemilihan tema itu. "Kita akan mengamati dan menyoroti praktik-praktik mengakali teknologi, yang banyak ditemukan di negara-negara non-produsen seperti Indonesia," katanya.
Lebih jauh Mahardhika menjelaskan, yang menarik adalah bagaimana konsumen melihat teknologi sebagai alat produksi dalam tanda kutip. Contoh yang paling menarik di masyarakat, misalnya, tutup panci yang kemudian dijadikan antena.
"Bagaimana kita membaca muslihat itu, yang sudah berjalan secara organik. Kita ingin melihatnya kembali dan memaknainya sebagai sebuah fenomena kultural," ujar Mahardhika.
Dalam pemahamannya, praktik mengakali teknologi biasaya disebabkan oleh dorongan-dorongan dari beberapa motif, seperti substitusi atau mencari pengganti, menambah atau mengubah fungsi dan nilai guna benda. Bahkan menambah usia penggunaan, bermain-main, estetika , ataupun untuk menentang, menantang dan meretas sistem.
****
Tahun ini OK Video akan menyajikan ragam aliran karya yang lebih banyak. "Seperti performances dan multimedia, tahun ini dijadikan semacam genre yang baru di OK Video," ujarnya.
Begitu juga instalasi, kali ini akan lebih banyak disajikan, dengan ragam objek dan beberapa video sinkronisasi gerak.
Tahun ini OK Video menargetkan pengunjung yang hadir bisa melebihi 6.000 orang. Dengan segmentasi dari seniman, kritikus seni, penggemar seni, mahasiswa hingga kalangan yang lebih luar.
"Kami berharap, lewat festival ini, teknologi yang dikonsumsi sehari-hari pada suatu titik bisa menjadi alat produksi dan berpeluang dikembangkan lebih jauh," kata Mahardhika.
(utw/utw)











































