Tak Tahan Cuaca, Alat Musik Bambu Bisa Berubah Nada

Festival Musik Bambu Nusantara 2013 (5)

Tak Tahan Cuaca, Alat Musik Bambu Bisa Berubah Nada

Tia Agnes Astuti - detikHot
Jumat, 06 Sep 2013 14:59 WIB
Tak Tahan Cuaca, Alat Musik Bambu Bisa Berubah Nada
Jakarta - Tak salah punya impian besar mengekspor alat musik bambu dalam jumlah besar. Sayangnya tak semua alat musik bambu selamanya berkualitas bagus. Ketika dibawa ke negara lain dengan kondisi cuaca yang berbeda, justru bisa mengurangi kualitas nada.

Musisi jazz Dwiki Darmawan, 47 tahun, pernah mengalami kejadian tersebut. "Ketika travelling ke Amerika dengan kelembaban cuaca yang beda, suaranya jadi kering dan pecah," katanya di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat pekan lalu.

Saat itu, anggota musik grup Krakatau tersebut membawa alat musik bambu seperti angklung, calung, arumba, dan seruling.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mungkin, kata dia, dibutuhkan tambahan teknologi agar suaranya tak menjadi pecah. Agar para pemusik Indonesia mampu memperkenalkannya ke luar negeri. "Jadi seni tradisional kita enggak diam, bisa ikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri," ujarnya.

Salah satu ahli alat musik bambu, Handiman Diratmasasmita mengatakan hal yang sama. Ia mengakui tanaman bambu yang tumbuh di Indonesia akan mengalami perubahan kualitas jika dibawa ke negara lain. Pasalnya, setiap jenis memiliki ketahanan masing-masing.

"Untuk ke Arab, lebih baik alat musiknya menggunakan bambu awi temen. Kondisi kelembaban cuacanya tidak akan jauh berbeda dengan Indonesia," katanya kepada detikHOT Rabu pekan lalu (28/8/2013).

Keunggulan dari jenis bambu ini terdiri dari seratnya sehingga menimbulkan suara merdu. Ia juga tahan akan perubahan cuaca.

"Saya pernah mengirimkan pesanan angklung ke Arab beberapa tahun lalu, dan sampai sekarang belum ada komplain apa-apa," ujar pria yang kini berusia ke 74 ini.

***



Dari beragam jenis tanaman bambu yang ada di Indonesia, menurut Handiman tak semuanya bisa dibuat alat musik. Jenis yang paling sering digunakan adalah awi temen, awi gombong yang ukurannya besar, awi bitung, awi surat, dan lain-lain.

Untuk menebangnya pun tak boleh asal. Pasalnya bambu memiliki sifat yang unik. Sedikit salah menebang saja, bisa jadi bisa dimakan kutu atau suaranya menjadi tak merdu.

Berbekal pengalamannya selama puluhan tahun membuat angklung, Handiman menyebutkan ada beberapa syarat bahan baku bambu yang berkualitas. Di antaranya menebang bambu ketika aliran makanan di batang sudah terhenti.

"Kira-kira pukul 9 sampai 2 siang. Selain itu, harus pada musim kemarau karena kadar air di dalam bambu berkurang," ujar mahasiswa lulusan Bimbingan Penyuluhan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung angkatan 1965.

Setelah menebang, ia juga menyarankan agar meletakkan bambu tidak di atas tanah secara horizontal. Namun, harus didirikan agar semua bagian yang ada di bambu kering seluruhnya.

Pengeringan bambu harus selama tiga bulan lamanya. "Itu juga harus di ruangan terbuka, kebun atau lapangan luas. Tidak boleh di dalam ruangan atau rumah," kata Handiman.

Selanjutnya, ketika usia bambu sudah 6 bulan lamanya, baru bisa dipotong-potong sesuai dengan ruas yang diinginkan. Potongan ruas bambu tersebut disimpan kembali beberapa waktu hingga siap dibuat angklung maupun alat musik lainnya.

Pelajaran memilih bambu ini didapatkannya dari gurunya, Pak Daeng Soetigna. Ia masih ingat pesan yang disampaikannya yakni kerja sama, disiplin, ada rasa tanggung jawab, dan keyakinan bahwa membuat alat musik bambu itu menarik serta mudah.




(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads