Pengalaman Darwyn Tse, Tiga Jam Untuk Make Up Korban Perang

Di Balik Dunia Make Up Artist (2)

Pengalaman Darwyn Tse, Tiga Jam Untuk Make Up Korban Perang

- detikHot
Senin, 19 Agu 2013 11:16 WIB
Pengalaman Darwyn Tse, Tiga Jam Untuk Make Up Korban Perang
Jakarta - Belajar bisa di mana saja. Apalagi sampai harus lewat kursus dengan biaya yang luar biasa mahal. Itulah yang dilakukan oleh make up artist ternama Darwyn Tse.

Saat berusia 15 tahun, Darwyn meninggalkan Indonesia dan melanjutkan Sekolah Menegah Atas (SMA) di Trinity Grammar School di Melbourne. Ia pun mengambil jurusan Performance and Fine Art di Victoria College of The Arts pada 1996.

β€œPada dasarnya saya suka melukis. Saat itu, saya juga belajar akting dan berperan di live theater,” katanya kepada detikHOT di Laselle College International, Komplek Hotel Sahid Jaya, Jumat (17/8/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap aktor di sana diajarkan untuk mengurus dirinya sendiri, mulai dari busana hingga riasan. Nah, saat itulah, Darwyn merasa tertarik untuk belajar make up artistik.

β€œKarena saya akting di jurusan Fine Art, make up pasti diajarkan. Karena aktor dituntut bisa sendiri. Sistem di sana seperti itu, beda dengan Indonesia. Awalnya dari situ,” katanya.

Pria kelahiran 28 November 1976 ini juga terkejut ketika ia bisa mengubah wajahnya dengan segala bentuk dari hasil kreasi riasannya. Selama berada di jurusan teater dua tahun tersebut, Darwyn pun rajin mengikuti pengajarnya yang berprofesi sebagai make up artist.

β€œAku belajar spesial effect juga. Cara bikin darah di tubuh, lubang peluru yang kelihatan nyata,” ujarnya.

Pada dasarnya, ia mengaku bukan seorang make up artist beauty. Darwyn baru mempelajarinya ketika tahun 2005 MAC Cosmetics masuk ke Indonesia dan ia menjadi artist training.

Ketika di Melbourne, tiap kali perayaan Halloween, ia selalu pulang lebih awal dan berencana menakuti teman sekamarnya. Ia pun berdandan laiknya orang bunuh diri yang menyilet urat nadinya di dalam bath up. β€œPas mereka pulang kuliah, langsung Oh My God. Ha..ha..ha.”

Namun, sepanjang ia menjadi make up artist dengan keahlian spesial effect, ada satu proyek yang membuatnya terkenang adalah film Soegija karya Garin Nugroho. Saat itu, ia disuruh mendadani 10 orang pemain figuran korban perang.

β€œAda yang terbakar, luka tusuk, pokoknya berdarah-darah semua. Aku sudah kerjain dari pagi karena syutingnya sore. Satu korban perlu waktu 3 jam. Tapi ternyata enggak jadi dipakai,” kenangnya.

Ia pun harus bersikap profesional. Ini merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapinya. β€œSeorang make up artist harus tahu etika, karena kita yang juga di-hire.”

Pengalaman lainnya pernah dialami saat merias aktris ternama di suatu film. Lantaran aktrisnya tidak menyukai hasil karyanya dan selalu mengeluh. β€œSyuting jadi molor 3 jam, ya sudah aku diam saja.”

Meski awalnya, Darwyn tak berniat menjadi seorang make up artist, namun kini ia menyakini ini adalah impiannya. Bahkan spesial effect diyakininya merupakan seni yang menarik untuk digeluti. β€œJalani passion dengan have fun, jangan terpaksa karena seni itu feeling bukan matematika. Dan ego itu dibuang aja deh. Di industri ini, kita harus stay humble dan pintar adaptasi,” ujarnya.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads