Kurator Seni, Satu Proyek Bernilai Puluhan Juta

Mengulik Profesi Kurator Seni (7)

Kurator Seni, Satu Proyek Bernilai Puluhan Juta

- detikHot
Jumat, 16 Agu 2013 16:38 WIB
Kurator Seni, Satu Proyek Bernilai Puluhan Juta
dok
Jakarta - Berkutat dengan benda-benda karya seni bukan pekerjaan tanpa tantangan. Justru karena membutuhkan modal pengetahuan luas dan berani menanggung risiko yang tak main-main, kompensasi untuk profesi kurator juga tak sembarangan. Fungsinya sebagai penghubung antara seniman dan penyelenggara pameran jadi elemen sangat penting.

“Kebutuhan pasar sekarang ini sangat luar biasa. Lalu siapa yang mengkuratori. Makanya muncul banyak kurator-kurator muda,” kata pemilik Gallery PhiloArt Space Tommy F.Awuy kepada detikHOT di Reading Room Jakarta, Jalan Kemang Timur Raya Nomor 57 Senin (12/8/2013).

Meski pembahasan mengenai kurator sudah ada sejak 1995, tapi kesadaran sebagai profesi baru terjadi belakangan ini saja. Sayangnya Indonesia belum punya pendidikan khusus kurator, jadi rata -rata para kurator adalah lulusan seni rupa. Lalu apa tugas dari seorang kurator seni?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Mulai dari cari tema pameran, mencari pelukis yang cocok dengan tema itu. Tapi yang terpenting seorang kurator harus gaul dan banyak pengetahuan tentang seni,” kata Tommy.

Dosen Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut juga mengatakan seorang kurator bisa memprediksi harga sebuah karya. Namun, ia tidak boleh turut campur dalam pasar pelelangan karya. “Yang ngurus adalah managemen galeri, kalau sudah campurin pasar itu namanya broker.”

Lalu, apakah kompensasi yang didapat seorang kurator cukup menggiurkan? Menurut pengalaman Tommy, saat ia pertama kali mengkurasi tahun 1999, ia diberikan ongkos kerja kerasnya sekitar Rp 3 juta. “Sekarang bisa sekitar Rp 20 sampai Rp 30 jutaan,” kata Tommy.

Hal ini diamini oleh pendiri Ruang Rupa Jakarta, Ade Darmawan. “Bisa sekitar segitulah, yah lumayan menghidupi. Tapi itu tergantung juga,” ujarnya.

Ade menjelaskan profesi kurator itu dibagi ke dalam dua istilah yakni kurator independen, dan kurator lembaga. Jika lembaga, pastinya ia menjadi kurator tetap terhadap lembaga tersebut. “Biasanya dia ada income bulanan dibayar sama art space tersebut. Gue enggak tahu berapa besarannya.”

Namun, jika independen terbagi lagi ke dalam kurator yang membuat pameran sendiri sekaligus mengkurasinya. Serta kurator yang disewa oleh pihak penyelenggara. Jumlah pendapatannya tergantung kepada sponsor dan pameran. Pasalnya, si kurator independen harus mencari donatur dan dukungan finansial sendiri.

“Kalau kurasi pameran di luar, paling enggak sama sekitar segitulah. Yang lembaga bisa mentok masih di bawah harga yang atas,” katanya.

Meski profesi ini sangat menjanjikan, tapi bagi Tommy, menjadi kurator hanyalah pekerjaan sampingan. Sedangkan sebagai pekerjaan tetap sehari-hari, ia menjadi pengajar.


(utw/fip)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads