βGue jadi paham, oh ini yang namanya calo dan oh gini caranya kalau pakai tiket gratis,β ujarnya kepada detikHOT, Kamis (1/8/2013).
Tahun ini Septri seperti kebanjiran berkah, lantaran sejumlah band favoritnya sempat mampir dan berkonser di Indonesia. Di antaranya seperti The Stone Roses, Weezer, Sigur Ros hingga Blur yang datang pada Mei lalu. βGue pribadi sudah beli tiketnya dari beberapa bulan sebelum konser.β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, ia pun menyiapkan modal awal yang menguras koceknya. Satu tiket saja dihargai Rp 1,5 juta. Jika ia membelikan 15 tiket maka sudah sekitar Rp 22,5 juta. Akhirnya, Septri pun bertemu dengan 'penyalurβ tiket yang tak lain adalah dari promotor konser sendiri.
βGue juga enggak paham kenapa dia bisa kasih harga lebih murah Rp 100 sampai Rp 150 ribu. Tapi gue takut juga ditipu,β ujarnya. Namun, orang tersebut menyakinkan Septri untuk membeli darinya dengan garansi jika bermasalah, uang akan dikembalikan 100 persen.
Selain harus menunggu balik modal hingga hari H konser selesai, pemain bass band Sunday Market District ini pun harus bersabar menunggu semua pembeli tiketnya masuk terlebih dahulu. Padahal ia pun harus mencari spot terbaik untuk menonton. βSempet deg-degan juga takut palsu. Tapi alhamdulillah semua bisa masuk.β
Jika Septri bermain di zona aman dengan tiket asli, lain halnya yang dialami Rifki, 31 tahun. Sudah sejak dua tahun lalu, ia mencoba berjualan tiket konser dengan harga yang lebih murah. βSaya coba ikut-ikutan teman, tapi ujungnya menguntungkan,β katanya ketika dihubungi detikHOT.
Ia mengaku para calo tiket tersebut biasanya terdapat koordinator di lapangan. Dari tangan orang tersebut, tiket bisa dicetak hampir mirip dengan aslinya. Menurutnya, jika keamanan tiket konser hanya seadanya, tiket mudah lolos.
βTapi kalau dia pakai kertas yang bagus kayak ada uang kertasan yang ada seratnya, barcode yang susah dilacak, itu yang susah ditipu. Teknologi juga sudah makin maju,β ujarnya.
Kini, Rifki sudah hampir setengah tahun tidak ikut menjual tiket konser lagi. Meski calo tiket seperti sudah membudaya di masyarakat Indonesia tapi ia mengaku takut ketahuan.
βEmang sih kalau makin banyak jualnya, makin dapat untung komisi. Tapi saya mau berhenti saja dulu,β kata warga Cilandak Jakarta Selatan.
(utw/utw)











































