“Kami ini berasal dari karyawan ex astaga.com dan SatuNET yang keduanya diakuisisi M-Web di awal 2000-an. Abis itu berpikir mau kerja ke mana lagi, akhirnya coba buat bisnis online ini,” kata Direktur Raja Karcis Taufik Purnomosidi kepada detikHOT Kamis (1/8/2013) di Gedung Bengkel Night Park kawasan SCBD Jakarta Selatan.
Taufik menjalankan bisnis ini bersama dengan tiga rekannya, Faisal M. Nur, Aji Hadiprana, dan Tubagus Rahmat Utama. Sebelumnya Tubagus adalah direktur perusahaan dan Raja Karcis berlokasi di depan rumah ibunya yang berada di Manggarai, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski MU tak jadi datang, tapi secara brand, nama Raja Karcis mulai terangkat. Sama halnya ketika penjualan tiket Justin Bieber yang juga mengangkat namanya. “Tiket yang disediakan promotor langsung habis. Ludes oleh para penggemarnya Bieber.”
Pada 2010, perusahan ini mulai membenahi diri ketika bergabung dengan Mahaka Group. Taufik sendiri sudah bekerja full time. Serta sistem pembayaran online juga mulai diterapkan.
Raja Karcis memfokuskan diri kepada penjualan live entertainment seperti konser, seni dan teater, dan live event. Meski konser merajai tempat utama, namun di tahun 2012, animo masyarakat akan teater begitu tinggi. “Ada peningkatan tren,” ujarnya.
Dengan modal awal Rp 50 juta, kini Raja Karcis sudah untung puluhan lipat. Taufik sendiri mengakui keuntungan ini dirasakan pihaknya setelah tujuh tahun jatuh bangun.
Di tahun pertama dan kedua, Raja Karcis hanya laku menjual satu tiket. Kala itu adalah live event dengan segmentasi anak-anak yang disponsori oleh Kompas Gramedia Group. Baru di tahun ketiga, terjadi peningkatan.
“Kami juga menerapkan aplikasi seat reservation system pada 2010 yang mengajak tiket box lainnya untuk bekerja sama menjual tiket,” katanya. Sistem ini satu-satunya yang ada dalam Raja Karcis.
Di tahun kesepuluh, bisnis penyedia jasa ini berdiri, sudah ada sekitar 122 ribu pengguna aktif. Sebanyak 20 persennya yang rutin membeli tiket di Raja Karcis. Ke depannya, Taufik mengatakan memiliki langkah-langkah perbaikan bagi perusahannya.
Di antara pembenahan sistem managemen, fisik tiket percetakan yang harganya tidak mahal. “Karena sekarang harga cetak tiket itu ditanggung promotor. Kami pikir mau bikin tiket khusus bagi Raja Karcis yang enggak bisa ditipu tapi enggak mahal,” katanya.
Serta ketiga, adalah mengenai lokasi. Pusatnya kantor Raja Karcis kali ini, diakui Taufik tidak strategis bagi pelanggan perusahannya. Ia pun berencana mencari lokasi tiket box yang dapat dijangkau.
(utw/utw)











































