Nah, kalau sudah dijual terbatas, tentu harga yang ditawarkan tidaklah murah. Hal itu ditegaskan Public Relation Executive Louis Vuitton Indonesia Juli Wirjanty. "Harganya Rp 9,8 juta, khusus hari ini," kata Juli di butik Louis Vuitton, Plaza Indonesia, Selasa (23/7/2013).
Menariknya lagi, peluncuran koleksi scarf tersebut sekaligus menandai perayaan 25 tahun Louis Vuitton di Indonesia. Untuk 25 pembeli pertama, dananya akan didonasikan untuk komunitas seniman Salihara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan harga yang cukup tinggi, koleksi scarf ini jelas istimewa. Bukan saja menampilkan karya orisinal seorang seniman, juga kualitas bahan dan kreativitas diatas rata-rata.
"Lukisan saya ini di atas kain ukuran 136X136, bentuk square. Proporsi warna juga saya buat cerah. Jadi, efeknya bisa berbeda-beda. Sepuluh orang yang pakai scarf ini, tampilannya bisa lain-lain," kata Eko.
Koleksi scarf tersebut menampilkan satu dari enam lukisan yang semuanya terinspirasi dari keanekaragaman alam dan budaya khas Indonesia. Yang terpilih menjadi scarf adalah lukisan berjudul Republik Tropis, ia menjelaskan makna dibalik lukisannya.
"Inspirasinya dari keseharian saya, saya banyak terinspirasi dari isu sosial yang ada di sekitar saya. Saya tinggal di Indonesia dan saya adalah bagian dari masyarakat Indonesia jadi ini merupakan topik dan tema saya. Republik Tropis ini adalah penggabungan-penggabungan dari keaneka ragaman hayat kita, timur, barat, utara, selatan wilayah kita juga kekayaan floranya," kata Eko menjelaskan. "Jadi kalau Anda lihat, saya menggabungkan beberapa unsur motif yang saya ambil dari laut, terus dari tumbuh-tumbuhan. Ini sangat organik dan otentik."
Ia juga banyak menggabungkan unsur warna terang dan gelap karena sesuai dengan konsep keberagaman di Indonesia. "Saya menggunakan motif yang diulang dan disela-sela itu ada identitas masyarakat Indonesia lewat seseorang yang bersembunyi itu," kata Eko menjelaskan.
Adanya simbolisasi dari sebuah identitas bisa dibilang merupakan salah satu ciri khas pada karya Eko, ia kerap menginterpretasi bentuk cair identitas pada karyanya.
"Simbolisasi ini saya gambarkan dengan sebuah topeng. Dari sana Anda bisa menemukan image-image yang sembunyi di balik sesuatu, inilah simbol manusia modern" kata Eko.
Masih dalam karyanya, pada motifnya ia memaknai bentuk gunungan dan stupa dari Candi Borobudur dengan hiasan warna coklat yang menurutnya terinspirasi dari warna kopi. Ia memilih kopi karena kedekatannya dengan budaya lokal kita.
(fip/utw)











































