Demikian sabda Dewi Uma, yang telah dikutuk menjadi Durga, raksasa penghuni Hutan Gandamayu yang angker. Bersama sabahat senasibnya Kalika, ia menjalani kutukan itu dan menunggu seorang ksatria datang untuk meruwatnya, sehingga ia bisa kembali ke kahyangan sebagai istri Syiwa.
Tapi, kenapa Syiwa mengutuk istrinya sendiri? Bagi yang akrab dengan kisah pewayangan, tentu tak asing dengan lakon ini. Dalam masyarakat Jawa, lakon ini dikenal sebagai 'Ruwatan Sudamala' dan dianggap sebagai salah satu lakon wayang yang sakral. Dan, Teater Garasi berhasil mengusungnya ke atas panggung sebagai sebuah tontonan yang meditatif, layaknya ritual ruwatan itu sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Repertoar Gandamayu' sendiri dipentaskan dua hari, Selasa dan Rabu (4-5/9/2012) pukul 20.00 WIB. Disutradarai oleh Gunawan Maryanto dan Yudi Ahmad Tajudin, pementasan ini menampilkan Ine Febriyanyi sebagai Durga dan Ayu Laksi sebagai Kalika. Keduanya menampilkan akting yang menggetarkan. Ayu, yang dulu dikenal sebagai penyanyi dan terakhir muncul dalam film 'Under the Tree' karya Garin Nugroho, juga mempersembahkan keelokan vokalnya dalam pertunjukan ini.
Jadilah, 'Repertoar Gandamayu' sebuah tafsir yang modern atas salah satu lakon wayang yang paling populer di Jawa. Sejak tirai panggung dibuka, aroma khas Teater Garasi langsung tercium dari tata artistik panggung yang memanfaatkan secara maksimal keluasan hingga jauh ke bagian belakang. Tiang-tiang kayu yang berdiri dalam nuansa gelap berkabut langsung mengimajinasikan sebuah hutan yang wingit.
Tapi, imajinasi itu juga langsung "dirusak" oleh adanya ranjang beroda lengkap dengan tabung infus, yang mengingatkan pada dunia rumah sakit. Di atas ranjang itulah, Syiwa (diperankan Whani Darmawan) yang sedang sakit memerintahkan Uma istrinya untuk mencari obat ke bumi, berupa susu dari sapi berwarna putih.
Teater Garasi memindahkan naskah novel Putu Fajar Arcana dengan setia, termasuk tatanan alurnya yang maju-mundur dan bingkainya berupa dialog ayah dan anak yang "seenaknya" keluar-masuk cerita. Perhatian penonton berkali-kali dihancurkan, didistraksi dan dipotong-potong oleh struktur penceritaan yang meramu antara wayang dan teater modern, dengan unsur tari kontemporer (dikerjakan oleh koreografer Danang Pamungkas). Di sini, Arjuna memakai celana hijau Topman dan jas almamater kampus, duduk di atas ranjang rumah sakit dan sesekali jemarinya yang lentik menari.
Ranjang rumah sakit dengan tabung infusnya itu lantas bisa menjadi apa saja, termasuk kereta kencana tunggangan Kunti, ibu para Pandawa, yang diperdaya Durga untuk menyerahkan anak bungsunya, Sahadewa, sebagai tumbal. Pada akhirnya, 'Repertoar Gandamayu' adalah sebuah permainan bentuk, atas kisah "klasik" yang telah diketahui, dengan ilustrasi musik yang mencekam dan menyiksa layaknya film slasher, dengan akhir yang, tentu saja, mesti disesuaikan dengan spirit kekinian.
Dan, untuk tema perempuan semacam ini, spirit itu tak sulit ditebak, apalagi kalau bukan perlawanan-feminis. Seperti disabdakan oleh Durga di awal, "Tak seharusnya kesetiaan perempuan diuji, sebab hanya waktu yang bisa melakukannya".
(mmu/mmu)











































