Dengan arahan sutradara Wawan SofwanSelama 1,5 jam Happy bermonolog berdasarkan naskah yang tulis oleh penyair Bandung Ahda Imran. Ia mengenakan kebaya kuning, cantik, lembut dan anggun. Dalam monolognya sebagai Inggit, berkali-kali Happy menyebut kata 'larut'. Misalnya pada bagian ketika Inggit berkata, "Mungkin saya tak punya peran apa-apa, tapi saya larut dalam perjuangan Koesno." Dan, itu pulalah yang terjadi pada penonton, larut dalam monolog Happy.
Koesno itu panggilan kesayangan Inggit terhadap Soekarno, lelaki yang kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Ia datang dari Surabaya untuk melanjutkan pendidikannya, dan oleh tokoh pergerakan HOS Cokroaminoto 'dititipkan' untuk ditampung di rumah Inggit. Soekarno sendiri adalah menantu Cokro. Ia menikah dengan anaknya, Utari, namun ditinggalkan di Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soekano jatuh cinta pada Inggit, dan meminta izin suami Inggit untuk menikahinya. Inggit sendiri bersedia, namun minta diceraikan oleh suaminya dulu. Ia juga meminta Soekarno untuk menceraikan Utari. Sang suami dan Soekarno setuju, dan menikahlah Inggit dengan Soekarno. Cerita lalu bergulir penuh drama. Soekarno dengan segala sepak terjangnya di kemudian hari ditangkap oleh pemerintah Belanda, dan diasingkan berpindah-pindah, dari penjara di Bandung ke Endeh, Flore hingga Bengkulu.
Dengan setia Inggit terus mendampingi, namun di ujung dari perjalanan penuh luka itu, Soekarno menyampaikan keinginannya untuk punya anak. Inggit yang mandul hanya bisa pasrah, namun ia tak mau dipoligami. "Sebagai seorang perempuan, saya sudah mengambil hak saya untuk berkata tidak pada seorang laki-laki yang bernama Koesno!" ujar Inggit.
Happy Salma membawakan 'Monolog Inggit' dengan cemerlang. Seorang diri ia menguasai panggung yang dengan efektif ditata oleh perupa Soenaryo. Dibingkai ilustrasi musik yang minimalis, dengan sesekali dihiasi senangdung dan lirik-lirik tembang Sunda, Happy membuat penonton larut. Naskah yang pada dasarnya bagus, dibawakan dengan intonasi dan energi yang terjaga. Sesekali terselip "dialog" dalam Bahasa Sunda, memberi aksentuasi yang memperkuat suasana. Dan penonton pun emosi, tertawa, berkaca-kaca dibuatnya.
'Monolog Inggit' adalah sebuah tafsir terhadap sosok Inggit Garnasih, yang barangkali agak terlupakan. Seorang ibu kos yang menikahi anak kosnya? Pertunjukan semalam mencoba menempatkan Inggit pada posisi yang semestinya, dan memberikan pemahaman baru, di balik sejarah "resmi" yang selama ini cenderung memitoskan Soekarno.
'Monolog Inggit' masih dipentaskan sekali lagi, Selasa (5/6/2012) pukul 20.00 WIB malam nanti. Harga tiket untuk umum Rp 250 ribu, dan jika Anda mahasiswa cukup sediakan Rp 150 ribu saja.
(mmu/mmu)











































