Gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpampang sendirian tanpa didampingi gambar sang wakil. Gambar berukuran besar tanpa bingkai itu tertempel di sebuah tirai yang lusuh. Itu memang bukan ruangan kantor yang mewah, melainkan sebuah tempat pengungsian. Pemasang foto itu seolah bertanya, di manakah presiden negeri ini?
Gambar Presiden SBY tersebut merupakan salah satu objek foto dalam pameran fotografi yang menyertai acara perluncuran novel 'Maryam' karya Okky Madasari di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (7/3/2012) malam. Selain pameran foto, ada juga orasi budaya oleh Ketua Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfah Ansor.
Tak hanya itu, acara peluncuran novel tersebut juga dihiasi dengan pembacaan petikan karya oleh Lola Amaria dan Tunggal Pawestri. Semua rangkaian acara itu terangkum dalam tajuk 'Yang Terusir karena Iman'. Tajuk tersebut sesuai dengan tema novel yang mengangkat isu diskriminasi dan penindasan yang dialami oleh kelompok minoritas dalam agama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Novel ini diilhami oleh kejadian nyata yang dialami oleh sahabat saya sendiri, yang curhat sama saya," ujar Okky yang melakukan riset secara langsung ke lokasi kejadian di sebuah desa di Lombok untuk novel ketiganya tersebut.
Okky menerbitkan novel pertamanya, 'Entrok' pada 2010. Lewat novel keduanya, '86' yang berkisah tentang korupsi di lembaga kejaksaan, Okky Madasari masuk nominasi anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award 2011. Tahun lalu ia juga diundang untuk membacakan karyanya di acara Utan Kayu-Salihara International Literary Biennale.
Selain menulis novel, Okky juga menulis lagu. Dentingan piano yang mengiringi lagu-lagu ciptaannya dihimpun dalam album 'Terbangkan Mimpi' dan dirilis satu paket dengan novel 'Maryam'. (mmu/mmu)











































