Mas Willy adalah sapaan akrab penyair dan dramawan besar Rendra. Dan, 'Mastodon' adalah salah satu naskah dramanya yang terkenal dan fenomenal. Kendati demikian, tak banyak orang, terutama dari generasi yang lahir pada 1970-an dan sesudahnya, yang telah menyaksikan pementasan naskah tersebut.
Maklum, sebab, setelah dipentaskan pertama kali di Yogyakarta pada 1973, dan dua kali lagi masing-masing di Bandung dan Jakarta pada tahun yang sama, naskah tersebut seperti menghilang. Tak pernah dipentaskan lagi. Untuk itu, inisiatif Ken Zuraida, istri Rendra, untuk memanggungkan lakon tersebut, sungguh merupakan kesempatan bagi generasi kini untuk menyaksikan salah satu karya tonggak dalam sejarah teater di Indonesia tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dibuka dengan musik dan nyanyian berirama (Amerika) Latin, cerita diawali dari sebuah kampus. Seorang penyair , Jose Karosta, sedang gelisah menatap negerinya yang sedang gencar membangun, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun menyisakan kesengsaraan hidup di tingkat rakyat bawah.
Negeri itu adalah bekas jajahan Spanyol. Dan, simaklah nama-nama tokoh lakon ini: Emmanuel Valdez, Dolores Aros, Don Carvalho, Juan Frederico, Fabiola Andrez...mereka adalah para mahasiswa yang sedang merencanakan revolusi! Jose Karosta sang penyair tidak setuju dengan revolusi. Ia menolak kekerasan.
Akibatnya kelompok pro-revolusi memfitnah Jose, dan menyebabkan sang penyair dipenjara. Sementara, gerilya terus bergolak dan satu per satu provinsi berhasil diduduki kaum revolusi yang menyatu dengan rakyat. Namun, sekeluarnya dari penjara, Jose sang penyair tetap melawa ide revolusi dari para kolega dan profesornya di kampus.
Dengan dialog-dialog panjang yan penuh ide filsafat dan pemberontakan, dan monolog-monolog yang sinis mengkritik pemerintah, bisa dibayangkan, ketika dipentaskan pada 1973, naskah 'Mastodon' memang sangat modern, "keras", dan revolusioner. Tak heran jika kala itu pementasan sempat dilarang, namun kemudian atas jaminan seorang petinggi tentara akhirnya bisa dilaksanakan.
Tapi dipestaskan lagi sekarang tanpa penyesuaian sedikit pun, jadi banyak konteks yang hilang. Serangan-serangan terhadap korupsi dan ketidakadilan jelas masih relevan dengan kondisi saat ini. Namun, secara umum, banyak isu dan aspek-aspek lain dari lakon 'Mastodon' yang sudah tidak "nyambung" lagi. Lebih-lebih Orde Baru dan ideologi pembangunanisme yang menjadi sasaran tembak utama lakon ini sudah jatuh.
Orde "reformasi" memang telah banyak dikritik tak jauh beda dengan orde yang ditumbangkannya. Namun, secara umum, lakon 'Mastodon' lebih enak jika dipandang sebagai sebuah dokumentasi sosial, sebuah karya masterpiece yang berhasil merekam situasi zamannya, ketimbang sebagai "alat" --yang dipinjam-- untuk menjawab situasi (sosial-politik) saat ini.
(mmu/nu2)











































