Kejutan Medley Putu Wijaya Memukau Penonton

Kejutan Medley Putu Wijaya Memukau Penonton

- detikHot
Minggu, 26 Jun 2011 09:14 WIB
Kejutan Medley Putu Wijaya Memukau Penonton
Jakarta - Putu Wijaya yang sedianya hanya bermonolog dalam pementasan bertajuk 'Trik' di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) tampil memberi kejutan. Ia bersama awak Teater Mandiri, berhasil memukau penonton dengan memainkan tiga naskah andalannya.

"Pertunjukan tadi adalah sebuah medley yang diambil dari naskah monolog 'Merdeka', dari 'Aduh' separuhnya dan naskah 'Setan',” ujarnya di lokasi, usai pementasan, Sabtu (26/6/2011) malam.

"Sebenarnya niat saya pertama kali adalah membuat pertunjukan monolog. Tapi kemudian dalam pelaksanaannya tiba-tiba muncul ide, agar yang nanti dimainkan di Taman Ismail Marzuki (15-16 Juli 2011) itu dipreview sedikit di sini," sambungnya lagi, menjelaskan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jalannya pementasan itu sendiri berangsung sangat menarik. Tampil mengenakan pakaian serba hitam, peci, syal warna merah putih serta tongkat, Putu berhasil membawa emosi penonton masuk dalam monolognya yang sarat improvisasi dan jenaka. Satu orang penonton pun sempat ditariknya spontan ke atas panggung untuk menjadi aktor dadakan.

"Apakah kita sudah merdeka? Jangan-jangan kita tidak pernah merdeka?" tanya Putu, ketika membawakan naskah 'Merdeka'. Pertanyaan itu sederhana, namun nampaknya mampu membuat penonton mengernyitkan dahi untuk mencernanya.

"Hanya orang-orang merdeka yang mampu bilang tidak,"” jelas Putu.

Naskah 'Aduh' yang dimainkan awak Teater Mandiri, menggambarkan sifat egois dan krisis kepercayaan manusia. Sekelompok orang yang melihat seseorang membutuhkan pertolongan, namun tidak juga diberi. Hanya terjadi perdebatan tak berujung, hingga orang tersebut akhirnya meninggal di pinggir jalan.

Pementasan pun berakhir pada pukul 21.30 WIB dengan dimainkannya naskah 'Setan'. Lewat kisah itu, Putu dengan tegas juga menyindir pemerintah. "Kalau kamu masuk ke dalam gedung itu dan melihat wakil-wakil rakyat pada tidur, main SMS dan ada juga yang melihat video porno, itu Indonesia," ujar Putu dalam monolognya ketika memerintahkan setan.

Lewat gaya teror mental khasnya, pria kelahiran 11 April 1944 itu nampaknya memang tengah mencoba membangun kesadaran, bahwa Indonesia sedang sekarat dan butuh figur pahlawan. "Seorang pahlawan adalah seseorang yang tidak takut mati dan berani," tegasnya.

Usai pementasan, seluruh penonton yang didominasi kawula muda itu pun mengganjar Putu dan Teater Mandiri dengan riuh tepuk tangan. Ada bahagia, amarah, kesedihan, kecewa, senyum dan berbagai perasaan lainnya yang tampak dari wajah penonton. Semua punya interpretasi sendiri memaknai pertunjukan itu.

"Penonton menangkap beberapa hal yang berbeda, itu tidak apa-apa, karena pementasan ini multi interpretable. Orang bisa melihat bermacam macam hal," pungkas Putu.

Bagi anda yang belum sempat menyaksikan pertujukan malam tadi, anda masih sempat melihatnya pada 15 dan 16 Juli di Graha Bhakti Taman Ismail Marzuki, Jakarta, lewat pementasan 'Aduh!'. Rangkaian pementasan ini sendiri memang dilakukan dalam rangka memperingati 40 tahun berdirinya Teater Mandiri.
(bar/yla)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads