Kaki-kaki itu terbalut legging bermotif yang sepertinya terbuat dari bulu-bulu halus. Menjadikan kaki-kaki itu tampak lebih seksi, dan menggairahkan. Kaki-kaki perempuan, tentu saja. Sebab, Edo memang memaksudkannya demikian. "Kaki perempuan...dan hasrat, berenang dalam mitos kecantikan," katanya.
Apakah Edopop terobsesi dengan kaki (perempuan) yang dianggapnya tak kalah cantik dibandingkan dengan wajah? Apakah ini hanya bagian dari gejala umum dimana pelukis laki-laki memang gemar menjadikan tubuh perempuan sebagai objek? Semua itu mungkin, namun jika melihat tajuk pamerannya, 'Menjadi/isness', Edopop sepertinya justru sedang berusaha mengeksplorasi sisi femininya-(tubuh)nya sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, "menjadi" adalah sebuah pengalaman yang sangat subjektif. Orang bisa mengabaikan pemikiran apapun ketika melihat lukisan Edopop, yang kalau ditutup label judulnya, pertama-tama menyajikan kesenangan. Lukisan-lukisan Edopop dibangun dari guratan-guratan halus, seperti benang-benang yang dirajut. Guratan itu menjadi latar semua lukisannya, sehingga objek yang ia lukis seolah-olah berada di atas hamparan kain.
Teknik itu melahirkan pesona tersendiri, dan mendatangkan rasa senang pada orang yang melihatnya. Objek-objek lukisan Edopop seperti menyembul dari balik hamparan kain itu, tubuh-tubuh yang tidak utuh, hanya bagian perut ke kaki. Dan kaki-kaki itu mencuat ke atas, seperti menari, dengan posisi telapak yang meruncing, mengingatkan pada penari balet.
Edopop lahir di Sumatera Selatan pada 1972 dan mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Senirupa Palembang, dan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Menurut kurator pameran, Jim Supangkat, lukisan-lukisan Edopop untuk pameran tunggal yang disiapkan selama 2 tahun ini menyampaikan persoalan tubuh perempuan yang sudah sering dibahas namun masih terbuka untuk didiskusikan.
Anda pun bisa ikut mendiskusikannya, sambil menikmati keindahannya. Pameran dibuka sampai 10 Juni 2011.
(mmu/nu2)











































