Diklaim sebagai pertunjukan yang menampilkan keagungan budaya Jawa dalam tata panggung spektakuler, 'Matah Ati' dipastikan akan memberi warna lain bagi tren teater musikal di Indonesia belakangan in.
"Pentas ini dikemas dalam tradisi Istana Mangkunegaran yang kental, dalam bentuk tarian dan tembang Jawa klasik," ujar sutradara 'Matah Ati' BRAy Atilah Soeryadjaya dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis (28/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun kisahnya memotret perjuangan dan perjalanan cinta seorang perempuan dari kalangan rakyat biasa bernama Rubiyah pada masa penjajahan Belanda.Β Rubiyah hidup sezaman dan berjuangan bersama tokoh terkenal Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyowo, yang kelak menjadi raja pertama Mangkunegaran.
Dengan demikian, pentas 'Matah Ati' juga bercerita tentang sejarah berdirinya Kerajaan Mangkunegaran. Rubiyah yang kemudian dipersunting oleh Raden Mas Said kelak akan menurunkan generasi raja-raja di istana tersebut.
Atilah berharap, 'Matah Ati' bisa menjadi terobosan dalam seni pertunjukan di Tanah Air. Diungkapkan, saat dipentaskan di Singapura, 'Matah Ati' mendapatkan standing ovation dari penonton, serta pujian yang tinggi untuk tata panggung dan artistik yang dikerjakan oleh Jay Subyakto.
(mmu/mmu)











































